Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Dedikasi Joko Surono, Tak Pernah Lelah Menyalakan Harapan demi Keadilan Pendidikan di Kota Bengawan

Alfida Nurcholisah • Selasa, 11 November 2025 | 01:57 WIB
Joko Surono mengajar berbagai kalangan di PKBM. (Alfida Nurkholisah/Radar Solo)
Joko Surono mengajar berbagai kalangan di PKBM. (Alfida Nurkholisah/Radar Solo)

RADARSOLO.COM - Malam mulai turun di langit Banjarsari. Di saat kebanyakan warga menutup hari dengan istirahat, sebuah ruangan sederhana di PKBM Berdikari justru masih terang oleh semangat belajar.

Suara lembut seorang pria berusia 47 tahun terdengar sabar menuntun peserta didik menulis dan membaca. Dialah Joko Surono, sosok guru nonformal yang telah mengabdikan 15 tahun hidupnya untuk mereka yang hampir kehilangan kesempatan bersekolah.

Setiap hari, ayah tiga anak itu menempuh perjalanan dari rumahnya di Mojosongo menuju tempat mengajar di Banjarsari. Siang hari ia menjadi staf kesiswaan sekaligus pengajar di PKBM Banjarsari, dan malam hari—dua kali seminggu—ia kembali ke ruang belajar yang lain, mendampingi peserta didik berusia 20 hingga 50 tahun.

“Pesertanya macam-macam. Ada yang linmas, pekerja kebersihan, ibu rumah tangga. Tapi semangat belajarnya luar biasa,” ujar Joko sembari tersenyum, mengenakan kemeja batik sederhana.

Meski tenaga dan waktu yang ia curahkan begitu besar, penghasilannya jauh dari kata cukup. Sekali mengajar, ia hanya menerima Rp 45 ribu. Dalam sebulan, sekitar Rp 400 ribu menjadi upah yang ia bawa pulang—jauh di bawah UMR Kota Solo. Tapi baginya, nilai sejati bukan diukur dari angka.

“Kalau cuma mengejar materi, saya sudah berhenti dari dulu. Tapi melihat mereka bisa baca, bisa lulus, itu kebahagiaan yang gak ternilai,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.

Dedikasi Joko tak berhenti di ruang kelas. Ketika ada peserta didik yang berhenti belajar, ia tak segan menyusuri gang-gang sempit di Solo untuk membujuk mereka kembali. Ia tahu, di balik alasan ekonomi atau rasa malu, masih ada keinginan untuk belajar yang perlu disemangati.

“Saya pernah datang ke rumah di kampung padat, hanya untuk meyakinkan satu anak agar mau ikut belajar lagi. Kalau gak mampu bayar, ya kami gratiskan. Yang penting mereka mau belajar,” tuturnya.

Untuk mencukupi kebutuhan keluarga, Joko juga bekerja serabutan. Kadang menjadi narasumber parenting, kadang dipercaya memandu kegiatan outbound sekolah atau komunitas. Semua ia jalani dengan ringan, karena yang dicari bukan semata penghasilan.

“Yang penting bisa bermanfaat. Saya senang bisa berbagi ilmu, apalagi untuk mereka yang dulu sempat putus sekolah,” katanya.

Di mata rekan sejawat dan peserta didik, Joko adalah teladan. Ia membuktikan bahwa pendidikan sejati bukan hanya milik ruang kelas ber-AC, tetapi juga bisa tumbuh di ruang sederhana dengan papan tulis yang mulai pudar.

“Kami tidak menuntut disamakan dengan guru formal. Tapi kalau bisa, tenaga pendidik nonformal juga diberi perhatian. Sekadar penghargaan agar semangat kami tetap menyala,” ucapnya penuh harap.

Di tengah hiruk-pikuk Kota Solo, sosok Joko Surono adalah lentera kecil yang tak pernah padam—menyala dari ruang sederhana, menuntun banyak langkah kembali menuju cahaya pendidikan. (alf/bun)

Editor : Kabun Triyatno
#pendidikan #PKBM #belajar #ruang kelas