Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Kisah Dua Mahasiswi asal Sragen Menyemai Mimpi di Tengah Lumpur Pertama: Pertama Pegang Traktor Pegal, Hilang Lihat Senyum Ayah

Ahmad Khairudin • Rabu, 12 November 2025 | 02:20 WIB

 

 

Vina Septia mengemudikan traktor di sawah untuk membantu orang tuanya. (Ist)   
Vina Septia mengemudikan traktor di sawah untuk membantu orang tuanya. (Ist)  

RADARSOLO.COM - Matahari belum tinggi, tapi embun di daun padi sudah mulai surut. Di tengah hamparan sawah berlumpur di Desa Gading, Kecamatan Tanon, Sragen, suara deru mesin traktor membelah kesunyian pagi. Lumpur muncrat ke udara, burung pipit beterbangan, dan di balik kabut tipis, tampak sosok perempuan muda mengendalikan setang traktor dengan tenang.

Namanya Vina Septia, 22. Tangan dan bajunya belepotan lumpur, tapi matanya berbinar. Di ujung petak sawah lain, sang adik, Ratnawati, 20, bersiap menggantikan giliran. Dua bersaudara ini bukan petani biasa. Mereka adalah mahasiswi Universitas Veteran Bangun Nusantara (Univet) Sukoharjo—yang di sela kuliah dan ujian, memilih kembali ke tanah, ke akar, ke lumpur.

“Saya biasa bantu bapak kalau libur kuliah,” ujar Vina sambil mengelap keringat di dahinya. “Kadang gantian sama Ratna nraktor. Sudah biasa sekarang.”

Traktor kecil itu seolah menjadi perpanjangan tangan perjuangan keluarga. Deru mesinnya adalah irama kehidupan—lagu perjuangan yang mengantarkan dua gadis muda itu menuju bangku kuliah.

Awalnya, keputusan mereka turun ke sawah bukan karena hobi, tapi karena tanggung jawab. Biaya kuliah tak sedikit, sementara penghasilan ayah mereka, seorang petani, pas-pasan.

“Kalau bapak nyewa orang bantu nggarap sawah, uangnya terbagi. Kalau kami yang bantu, bisa buat keluarga, bisa buat bayar kuliah,” tutur Vina.

Pada awalnya, tubuh mereka kaget. Pekerjaan membajak sawah dengan traktor menuntut tenaga besar dan keseimbangan yang tidak mudah.

“Pertama kali pegang traktor itu rasanya semua badan pegal. Tapi waktu lihat bapak tersenyum, semua capek hilang,” kenang Ratna, yang baru saja lulus D3 Rekam Medik dan Informasi Kesehatan.

Sang ibu sempat tak tega. “Takut anak perempuannya kenapa-kenapa di sawah,” ujar Ratna pelan. Tapi setelah melihat keduanya bisa bekerja dengan aman dan percaya diri, rasa khawatir berganti bangga. Kini, keduanya mampu membajak dan meratakan sawah hingga satu hektare—semuanya disesuaikan dengan jadwal kuliah.

Di sela suara mesin dan cipratan lumpur, tawa dua gadis itu sesekali pecah. Mereka tampak menikmati ritme alam yang jujur, meski keras. “Kami bangga jadi anak petani,” kata Vina mantap. “Nggak malu sama sekali. Justru ini yang bikin kami kuat.”

Bagi mereka, sawah bukan sekadar tempat bekerja, tapi ruang belajar tentang ketekunan dan rasa syukur. Di sanalah mereka memahami bahwa kerja keras di tanah adalah pondasi dari segala kemajuan—bahwa nasi yang mereka makan, berasal dari peluh orang tua seperti bapaknya.

Namun, di balik kebanggaan itu, tersimpan harapan besar. Vina berharap pemerintah lebih memperhatikan kesejahteraan petani. “Harga pupuk itu sekarang mahal, sulit didapat. Kalau bisa distabilkan, petani bisa bernafas lebih lega,” katanya.

Selain itu, mereka juga berharap ada bantuan alat pertanian modern seperti transplanter. “Sekarang jarang perempuan yang mau tandur. Kalau ada alatnya, kerja lebih ringan, hasil juga cepat,” tambah Ratna.

Kisah Vina dan Ratna adalah potret kecil tentang cinta pada tanah air—dalam arti yang paling harfiah. Di saat banyak anak muda berlomba mencari peruntungan di kota, dua gadis ini membuktikan bahwa masa depan juga bisa tumbuh di sawah, di antara lumpur dan sinar matahari.

“Banyak yang bilang, masa sih cewek nraktor? Tapi kami nggak peduli. Justru dari sawah inilah kami bisa sekolah, bisa punya cita-cita,” ujar Vina tersenyum.

Di ujung hari, ketika matahari condong ke barat dan langit Sragen berwarna jingga, traktor mereka perlahan berhenti. Lumpur di kaki mulai mengering, tapi semangat dua gadis itu tak pernah surut. Di antara deru mesin dan aroma tanah basah, mereka menanam bukan hanya padi—tapi juga mimpi yang tumbuh dari ketulusan. (din/bun)

 

Editor : Kabun Triyatno
#sawah #hobi #traktor #mahasiswa #keluarga