RADARSOLO.COM - Desa Glagahwangi, Polanharjo, Klaten, kini punya denyut baru. Di sudut taman desa, deretan rumah panggung berplastik putih menjadi sentra budidaya jamur tiram—tempat harapan ekonomi warga mulai tumbuh.
Memasuki bilik budidaya terasa seperti memasuki ruangan ber-AC alami. Udara lembap, sejuk, dan aroma tanah basah bercampur khas jamur langsung menyambut. Di dalam bilik-bilik itu, 10.000 baklog—media tanam jamur berbentuk log kayu yang ditutup plastik—tertata rapi dalam rak-rak bertingkat, tampak seperti deretan roti putih yang siap dipanen.
Maulana Ayub, pemuda pengelola budidaya ini, menjelaskan dengan antusias bahwa proyek ini adalah langkah nyata program ketahanan pangan desa yang baru berjalan sebulan terakhir.
"Budidaya ini awalnya memang program ketahanan pangan. Sudah berjalan sekitar satu bulan terakhir ini. Di sini totalnya ada 10 ribu baklog jamur," katanya, mengamati baklog-baklog yang sudah mulai mengeluarkan tudung putih.
Angka 10 ribu baklog mewakili potensi ekonomi yang besar. Ayub memproyeksikan, dari panen bergilir ini, desa mampu menghasilkan sekitar 4.000 kilogram jamur tiram. Panen sebanyak ini bukan hanya mengisi pasar lokal, tetapi juga ditargetkan masuk ke pengusaha rumah makan di seluruh Klaten.
"Nanti proyeksinya itu dari baklog itu nanti bisa menghasilkan sekitar 4.000 kilo dari jamur tiram," jelas Ayub.
Bagi warga Glagahwangi, proyek ini lebih dari sekadar budidaya, melainkan identitas baru. Ayub berharap budidaya ini dapat menancapkan nama Glagahwangi sebagai desa sentra jamur tiram di Klaten. Ini adalah visi yang selaras dengan program ketahanan pangan pemerintah, di mana desa mampu memproduksi sumber daya sendiri.
Proyek ini juga membawa misi edukasi yang mendalam. Ayub dan tim ingin menanamkan kesadaran bahwa jamur tiram adalah sumber protein nabati yang unggul dan sangat fleksibel di dapur.
"Jadi nanti memang dari jamur ini juga bisa kita edarkan, kita jualkan ke masyarakat," ujar Ayub.
Ia berharap masyarakat tidak lagi memandang jamur hanya sebagai pelengkap. "Kami ingin mengenalkan bahwa jamur itu enggak hanya bisa diolah, oseng-oseng, tapi bisa dijadikan berbagai olahan seperti keripik yang renyah, sate yang menggugah selera, dan bahkan rendang," imbuhnya.
Senyum Ayub menggambarkan keyakinan. Di balik suhu sejuk dan kelembapan bilik budidaya, Desa Glagahwangi sedang menumbuhkan peluang baru. Budidaya jamur tiram ini diharapkan menjadi contoh model ekonomi berkelanjutan yang memadukan peningkatan pendapatan, kesehatan, dan ketahanan pangan, membuktikan bahwa kemakmuran dapat bersemi dari hal yang sederhana dan bersahaja. (rif/bun)
Editor : Kabun Triyatno