RADARSOLO.COM - Tuhan memang kerap menitipkan keajaiban dengan cara yang tak terduga. Di sebuah ruang kelas sederhana di SLB Mandiri Putra Bangsa, Jatipuro, sunyi pecah oleh deru napas yang teratur. Tegar, 10, siswa kelas IV, tampak membungkuk dengan konsentrasi penuh. Bibirnya mengatup rapat pada batang kuas, menggerakkannya dengan presisi di atas kanvas putih.
Bukan pemandangan atau karakter kartun biasa yang ia lukis kali ini. Selama dua pekan terakhir, Tegar mencurahkan seluruh jiwanya untuk melukis sosok orang nomor satu di Indonesia Presiden Prabowo Subianto. Lukisan itu kini tak lagi berada di ruang kelasnya, melainkan telah sampai ke tangan sang presiden melalui Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti.
“Lukisan ini adalah cara saya bilang terima kasih,” tutur Tegar pelan namun mantap.
Bagi Tegar, potret itu bukan sekadar gambar wajah, melainkan surat cinta tanpa kata yang ia sampaikan lewat bahasa paling tulus lewat karya seni.
Melukis potret manusia adalah tantangan besar bagi pelukis profesional sekalipun, apalagi bagi seorang bocah yang harus melakukannya hanya dengan mulut. Setiap garis wajah dan bayangan membutuhkan koordinasi leher serta fokus yang melelahkan. Satu kesalahan kecil berarti harus mengulang, namun Tegar tak pernah mengeluh.
“Tidak terlalu sulit karena dibimbing guru. Semua melukisnya pakai mulut,” ujarnya polos, seolah tantangan fisik itu hanyalah kerikil kecil di jalan menuju mimpinya.
Kisah Tegar adalah cerita tentang transformasi. Setahun lalu, ia masih mengenyam pendidikan di sekolah reguler sebelum akhirnya pindah ke SLB. Kepala Sekolah Muhammad Fajar Riyanto mengingat betul momen awal Tegar beralih dari krayon ke cat lukis.
“Dalam enam bulan terakhir, perkembangannya sangat pesat. Puncaknya, saat kami ajak ke Jakarta, Tegar bahkan mencoba melukis media digital dan langsung berhasil menyelesaikan satu karya. Ini luar biasa,” kenang Fajar dengan binar bangga.
Karya Tegar hadir di saat yang tepat. Lukisannya menjadi simbol dari perubahan yang tengah dirasakan sekolahnya. Melalui program hasil terbaik cepat (PHTC), SLB di pelosok Karanganyar ini mulai tersentuh modernisasi. Dari revitalisasi bangunan hingga program makan bergizi gratis.
Bagi Tegar, fasilitas digital yang kini mulai masuk ke sekolahnya adalah "sayap" baru. “Saya ingin jadi pelukis dan animator profesional,” ucapnya penuh keyakinan.
Di matanya, teknologi bukan sekadar alat, melainkan jembatan untuk melintasi keterbatasan fisiknya. Fajar Riyanto menegaskan bahwa kisah Tegar adalah tamparan bagi siapa pun yang masih memandang anak berkebutuhan khusus (ABK) dengan sebelah mata. “Mereka bukan objek belas kasihan, tapi subjek pembangunan. Ketika ABK diberi ruang, Indonesia akan berdaya,” tegasnya.
Di atas kanvas yang dikirim ke Jakarta itu, Tegar tidak hanya melukis guratan wajah Presiden Prabowo. Ia sedang melukis masa depannya sendiri—sebuah masa depan di mana jemari tak lagi menjadi syarat untuk menciptakan keindahan, dan di mana kesempatan adalah hak bagi setiap anak bangsa yang berani bermimpi. (atn/bun)
Editor : Kabun Triyatno