Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Berawal dari Dibelikan Wayang Kertas, Adhyastha Swarna Prasraya Mahanipuna Raih Anugerah Kebudayaan Indonesia Kategori Anak

Tri wahyu Cahyono • Kamis, 25 Desember 2025 | 00:17 WIB
Astha menerima penghargaan Anugerah Kebudayaan Indonesia Kategori Anak dari Menteri Kebudayaan Fadli Zon.
Astha menerima penghargaan Anugerah Kebudayaan Indonesia Kategori Anak dari Menteri Kebudayaan Fadli Zon.

RADARSOLO.COM – Bikin bangga orang tua. Itulah yang dilakukan Adhyastha Swarna Prasraya Mahanipuna.

Siswa kelas V SDN Cemara 2 Kota Solo ini mendapatkan Anugerah Kebudayaan Indonesia (AKI) Kategori Anak.

Darah seni Astha, sapaan akrab Adhyastha Swarna Prasraya Mahanipuna, diturunkan dari kedua orang tuanya.

Hari Suryanto sang ayah memiliki latar belakang di bidang film dokumenter dan fotografi.

Sedangkan Endah Murtiningsih, sang bunda, merupakan penari klasik Jawa.

“Sejak kecil, Astha kerap saya ajak ketika ada kegiatan pameran, pementasan tari di Sriwedari maupun RRI,” ujar Heri dihubungi radarsolo.jawapos.com, Rabu (24/12/2025).

Dari kebiasaan itulah, lanjut Heri, muncul apresiasi terhadap seni pada diri Astha.

Puncaknya, ketika Heri membelikan Astha wayang kertas tokoh Bima.

“Saat itu Astha masih kelas II SD. Saya belikan wayang kertas di Alun-alun Utara Keraton Solo,” kenang Heri.

Dari situ, Astha semakin menyukai wayang kulit. Benda-benda di sekolah, seperti kemoceng, dimainkan ibarat sedang memegang wayang kulit.

Untuk mengasah bakat Astha, Heri memasukkan putra keduanya itu ke Sanggar Sarotama untuk belajar mendalang.

Memang Sanggar Sarotama terkenal dalam mencetak dalang cilik. “Dengan gemblengan Pak Muji (guru di Sanggar Sarotama). Bakat Astha semakin terasah,” terang Heri.

Baca Juga: Basral Graito Hutomo, Raja Skateboard Asia Tenggara asal Karanganyar yang Rela Kehilangan Masa Sekolah demi Harumkan Bangsa

“Beberapa kali pentas dalang. Mainkan lakon Anoman Obong dan sebagainya. Termasuk menjadi narrator di event temu dalang bocah Nusantara di TBJT (Taman Budaya Jawa Tengah),” imbuhnya.

Menggeluti bidang seni, Astha mendapat poin plus di bidang akademisnya.

Heri menyebut, ingatan Astha terhadap materi pelajaran menjadi lebih kuat.

“Di seni memang dilatih kedispiplinan. Ditekankan para guru tari dan pedalangan, bahwa berkesenian berpengaruh positif terhadap proses pembelajaran,” ucap Heri.

“Astha menjadi lebih teliti. Karena dalam melakukan sabetan dalang, harus diukur sabetannya segini. Ada hitungannya. Nilai akademisnya tidak ada yang 60,” lanjutnya.

Sebagai orang tua, Heri dan istrinya sangat mendukung bakat dan minat Astha. Dia menyebutnya Tut Wuri Handayani.

“Pengennya nanti kuliah di Seni Pedalangan,” ujar warga Griya Putra Utama III Mojosongo, Kecamatan Jebres, Solo.

Diketahui, Anugerah Kebudayaan Indonesia (AKI) adalah penghargaan tertinggi dari Kementerian Kebudayaan untuk mengapresiasi individu, komunitas, dan lembaga yang berdedikasi melestarikan dan memajukan kebudayaan nasional.

Pada program Anugerah Kebudayaan Indonesia, Astha mengikuti untuk kategori anak.

Astha diusulkan secara pribadi oleh orang tuanya dengan rekomendasi dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Solo, LPP RRI Surakarta dan SDN Cemara Dua Surakarta.

Hasilnya, Astha berhasil lolos dan mendapatkan pengharagaan Anugerah Kebudayaan Indonesia kategori anak dengan bidang keahlian yaitu Pedalangan, Tembang Macapat, Tari Gagah Gaya Surakarta dan Karawitan.

Prestasi lain yang berhasil diboyong Astha antara lain:

 

 

Editor : Tri wahyu Cahyono
#prestasi #Dalang Cilik #astha #kesenian #Anugerah Kebudayaan Indonesia #Adhyastha Swarna Prasraya Mahanipuna #tari #wayang