Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features

Luar Biasa..! Kisah Afifah Ririn, Pembarong Perempuan Wonogiri Mainkan Reog dengan Bobot 70 Kilogram

Alfida Nurcholisah • Senin, 29 Desember 2025 | 00:50 WIB
Ririn beraksi memainkan reog berbobot 70 kilogram di arena Keraton Surakarta, Sabtu (27/12).
Ririn beraksi memainkan reog berbobot 70 kilogram di arena Keraton Surakarta, Sabtu (27/12).

RADARSOLO.COM - Di tengah riuhnya tabuhan kendang dan denting gong yang menghentak, sebuah Dadak Merak raksasa setinggi lebih dari dua meter mulai meliuk. Gerakannya gagah, menyerupai merak yang tengah memamerkan keindahan bulunya. Namun, saat topeng singa itu terangkat, penonton kerap terperangah. Di balik struktur kayu dan bulu seberat 70 kilogram itu, bukan otot pria kekar yang bekerja, melainkan sosok Afifah Sulistyaningtyas Setya Rini.

Perempuan yang akrab disapa Ririn ini adalah anomali di dunia Reog yang maskulin. Ia menjadi satu-satunya perempuan di lingkungannya yang berani menopang beban puluhan kilogram hanya dengan mengandalkan kekuatan leher dan gigitan gigi.

"Banyak yang bilang tidak lazim. Tapi bagi saya, Reog adalah panggilan hidup," tutur Ririn dengan tenang, Minggu (28/12).

Cinta Ririn pada Reog tidak tumbuh kemarin sore. Sejak usia enam tahun, ia telah menjadi "asisten" setia ayahnya yang juga seorang pembarong. Mengikuti sang ayah dari desa ke desa, mata kecil Ririn terpaku pada bagaimana sebuah benda mati bisa tampak begitu "hidup" saat dimainkan.

Pada 2021 menjadi gerbang pembuktiannya. Alih-alih memilih peran Jathil yang lazim dilakukan perempuan, Ririn langsung memilih jalan pedang sebagai pembarong. Bersama Paguyuban Singo Mudo, ia mulai naik panggung, dari hajatan kecil hingga perayaan kemerdekaan.

"Reog itu benda mati. Tugas kita adalah memberikan napas supaya terlihat hidup," ujarnya.

Namun, menghidupkan benda seberat itu butuh pengorbanan. Ririn berlatih disiplin tiga kali seminggu selama tiga tahun terakhir. Ia melakukan pemanasan ekstrem, termasuk menggigit barbel untuk memperkuat rahang. "Kalau tidak tahu tekniknya bisa fatal, karena tumpuannya mutlak hanya di leher dan gigi," tambah Ririn.

Jalan yang dilalui Ririn tak semulus gerakan tariannya. Ia pernah mengalami cedera leher parah hingga tak bisa bergerak selama seminggu. Namun, luka fisik tak sepedih luka akibat lidah masyarakat. Karena kekuatannya yang tak masuk akal bagi sebagian orang, Ririn kerap dituding menggunakan ilmu gaib atau "susuk".

"Padahal saya murni belajar teknik. Saya tidak mau ambil pusing dengan omongan orang, biar karya saya yang bicara," tegasnya.

Dukungan kuat justru datang dari sang guru, Intan Ayu Paramitasari. Intan mengingat masa ketika Ririn hanya berani memegang merak kecil ukuran pelajar SMP.

"Saya motivasi dia agar berani mencoba Reog besar yang biasa dimainkan laki-laki. Semangatnya luar biasa, dia tidak pernah malu untuk bertanya dan mencoba," puji Intan.

Kini, Ririn aktif di Paguyuban Harjo Jati Mergo Wonogiri dan Reog Putri Ponorogo. Motivasinya kini berkembang. Bukan lagi sekadar hobi, tapi misi kesetaraan. Ia ingin mematahkan pakem bahwa posisi pembarong adalah hak eksklusif kaum laki-laki.

Di bawah terik matahari atau sorotan lampu panggung, Ririn terus membuktikan bahwa kekuatan tidak selalu soal otot lengan, melainkan soal keteguhan hati. Lewat setiap solah (gerakan) yang ia tarikan, Ririn sedang mengirim pesan bahwa tradisi ini milik siapa saja yang berani memikul bebannya, tak peduli laki-laki maupun perempuan. (alf/bun)

 

Editor : Kabun Triyatno
#perempuan #reog #dadak merak #Afifah Sulistyaningtyas Setya Rini