RADARSOLO.COM-Suara melengking khas knalpot motor RX-King yang biasanya dianggap sebagai kebisingan jalanan, kini naik kelas menjadi elemen musikal yang artistik.
Di tangan Bandoro Pulung Sadewo, deru mesin motor legendaris tersebut dipadukan secara apik dengan denting gamelan dalam sebuah karya eksperimental berjudul Asthagina.
Pementasan yang digelar di area Pagoda Mojosongo, Kampus FSRD ISI Surakarta pada 23 November 2025 ini tidak hanya menandai tuntasnya studi Pascasarjana Pulung.
Tetapi juga berhasil mendobrak batasan antara budaya populer dan seni tradisi.
Resonansi Antara Logam dan Mesin
Pulung, sang komposer, melihat adanya benang merah unik antara instrumen tradisional Jawa dengan motor dua tak tersebut.
Ia mencoba mengeksplorasi bunyi blayeran knalpot bukan sebagai polusi suara, melainkan sebagai sumber energi musikal.
“Ada energi dan getaran yang sejalan antara resonansi gamelan dan suara knalpot RX-King. Keduanya memiliki karakter getaran yang kuat jika diposisikan dalam ruang komposisi yang tepat,” ujar Pulung.
Membongkar Stigma Lewat "Kopdar" Artistik
Menariknya, pertunjukan ini tidak hanya melibatkan musisi di atas panggung.
Pulung secara khusus mengundang berbagai komunitas RX-King se-Solo Raya untuk hadir.
Alhasil, area kampus berubah menjadi ruang dialog antara seniman akademisi dengan para pengendara motor.
Kehadiran mereka menjadikan acara tersebut bukan sekadar konser. Tetapi juga menyerupai kopdar komunitas motor yang diintegrasikan ke dalam peristiwa artistik.
Di sinilah Asthagina menemukan keunikannya. Bunyi motor yang kerap diasosiasikan dengan kebisingan jalanan dan stigma negatif, justru diposisikan sebagai elemen musikal.
Pulung mencoba membongkar citra RX-King yang selama ini dilekatkan dengan anarkisme, kenakalan remaja, hingga simbol degradasi moral.
Melalui karya ini, Pulung menawarkan tafsir ulang atas ajaran Asthagina—sebuah konsep nilai moral yang dinilainya kian terpinggirkan dalam kehidupan masyarakat.
Bebunyian motor dan gamelan dipilih sebagai medium ekspresi untuk menyampaikan pesan tersebut, sekaligus membuka ruang dialog antara tradisi, budaya populer, dan realitas sosial.
Asthagina bukan sekadar eksperimen bunyi, melainkan juga sebuah refleksi sosial.
Karya ini menghadirkan kritik, sekaligus ajakan untuk melihat ulang simbol-simbol yang kerap disalahpahami.
Dari pagoda kampus seni, suara gamelan dan blayer RX-King berpadu, menyuarakan pesan moral dengan cara yang tidak biasa. (rud)
Editor : Tri wahyu Cahyono