Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Lonceng Tua GPIB Penabur Berusia Hampir 2 Abad dan Rahasia Sumbu Imajiner Solo, Jadi Incaran Kolektor Dunia Ditawar Ratusan Juta

Antonius Christian • Selasa, 6 Januari 2026 | 17:17 WIB
Lonceng GPIB Penabur Solo berusia ratusan tahun. (A Christian/Radar Solo)
Lonceng GPIB Penabur Solo berusia ratusan tahun. (A Christian/Radar Solo)

RADARSOLO.COM - Di tengah deru mesin kendaraan yang memadati kawasan Gladak, sebuah bunyi klasik masih setia mengudara. Dentang lonceng tua yang tergantung anggun di atas pintu utama Gereja Protestan di Indonesia Bagian Barat (GPIB) Penabur itu seakan mengajak siapa pun untuk sejenak menoleh ke belakang. Lonceng itu bukan sekadar besi tua. Ia adalah denyut nadi sejarah yang telah berdetak selama hampir dua abad di Kota Bengawan.

Lonceng berbahan besi itu telah berada di posisinya sejak gereja ini didirikan pada tahun 1832. Usianya nyaris setua bangunan GPIB Penabur sendiri—gereja tertua di Solo. Dahulu, suaranya adalah komando bagi jemaat di pusat kota, dibunyikan hingga tiga kali sebagai penanda persiapan, keberangkatan, hingga dimulainya ibadah.

“Sekarang tradisi tiga kali dentang itu tidak lagi dilakukan karena jemaat sudah menyebar jauh. Kini lonceng hanya dibunyikan sekali menjelang ibadah,” tutur Pendeta GPIB Penabur Solo Handri Yonathan kepada Jawa Pos Radar Solo, Senin (5/1).

Ada sebuah rahasia menarik yang tersembunyi di balik karat besi lonceng ini. Berdasarkan catatan sejarah lisan di lingkungan gereja, lonceng tersebut ternyata memiliki "saudara kembar" yang berada di dalam tembok Keraton Kasunanan Surakarta.

“Dulu Belanda membuat dua lonceng serupa. Satu ditempatkan di gereja, satunya lagi di keraton,” ungkap Handri.

Keterikatan ini menandakan betapa eratnya relasi antara pusat kekuasaan tradisional (Keraton Kasunanan Surakarta) dengan keberadaan komunitas Eropa di jantung kota kala itu. Nilai sejarahnya yang tak ternilai membuat kolektor dunia sempat "berburu" lonceng ini. Pada tahun 1980-an, seorang kolektor bahkan pernah menawarkan barter gila-gilaan. Satu lonceng baru ditambah uang tunai Rp 100 juta—angka yang sangat fantastis di zaman itu—namun pihak gereja memilih setia menjaga orisinalitasnya.

Kehadiran GPIB Penabur di lokasi saat ini merupakan simbol keterbukaan pasca-berakhirnya Perang Diponegoro pada 1830. Saat itu, warga Eropa mulai memberanikan diri membangun rumah ibadah di luar benteng pelindung.

Uniknya, pembangunan gereja ini tak lepas dari filosofi tata ruang Jawa. Letaknya bersandar pada Sumbu Imajiner Solo yang membentang dari Laut Selatan hingga Gunung Lawu. Bersama Masjid Agung Keraton dan Gereja Katolik St. Antonius Purbayan, GPIB Penabur berdiri kokoh di sisi kiri (barat) sumbu tersebut.

“Penempatan di sisi kiri ini melambangkan Habluminallah, hubungan manusia dengan Sang Pencipta. Sementara sisi kanan diisi oleh pasar, benteng, dan barat yang melambangkan Habluminannas atau hubungan antarmanusia,” jelas Handri. Pola ini identik dengan tata ruang di Jogjakarta, membuktikan adanya keselarasan visi antara Belanda, Islam, dan filosofi Jawa.

Berjalan masuk ke dalam gereja adalah perjalanan menembus waktu. Kursi kayu jati yang berat, anyaman rotan hasil revitalisasi tahun 1904, hingga meja panjang kuno masih terjaga dengan apik. Namun, sejarah tak selalu menyisakan semua benda.

GPIB Penabur pernah memiliki Orgel Pipa raksasa khas Eropa yang menyatu hingga atap mimbar. Sayangnya, alat musik agung itu menjadi korban keganasan banjir bandang Solo pada 1966. Saat air merendam kota hingga ketinggian hampir tiga meter, orgel tersebut rusak parah dan akhirnya lenyap dari ingatan jemaat.

Meski tembok gereja kini tampak putih bersih, garis kekuningan di beberapa sudut dinding masih dibiarkan sebagai penanda sunyi betapa dahsyatnya air pernah mengepung rumah Tuhan ini.

Kini, di tengah hiruk-pikuk Solo yang kian modern, lonceng tua itu tetap berdentang. Ia bukan sekadar memanggil orang untuk berdoa, melainkan mengingatkan warga Solo tentang sebuah harmoni dan toleransi yang telah terpahat di atas sumbu imajiner sejak dua abad silam. (atn/bun)

 

Editor : Kabun Triyatno
#jawa #dua abad #gereja #filosofi #jemaat #kolektor #belanda #eropa #Penabur #lonceng #diponegoro