RADARSOLO.COM - Matahari belum tepat di atas kepala, namun keringat sudah bercucuran di dahi Sumarno. Pria paruh baya itu tampak telaten memanggul potongan kayu menuju area belakang rumahnya di Kelurahan Banyuanyar, Banjarsari. Di sana, di atas lahan yang tak seberapa luas, Sumarno tidak sedang sekadar berkebun, ia sedang membangun sebuah "kerajaan" kecil yang mandiri.
Selama lebih dari dua dekade, Sumarno telah menyulap halaman belakangnya menjadi ekosistem pertanian dan peternakan terpadu yang nyaris tanpa cela. Mulai dari riak air di kolam bibit lele, riuh rendah ratusan ayam petelur, hingga hamparan hijau sayur-mayur yang tumbuh subur.
Langkah Sumarno dimulai pada 2001. Kala itu, modalnya hanya nekat dan gulungan plastik tipis yang ia paksa menjadi kolam lele. Air sering bocor, namun semangatnya tak pernah rembes.
“Dari keterbatasan itu saya justru belajar pelan-pelan sampai akhirnya bisa seperti sekarang,” kenang Sumarno sembari memandangi kolam-kolam permanennya yang kini sudah jauh lebih kokoh.
Dunia tanah dan ternak memang sudah mendarah daging baginya sejak kecil. Kini, ketekunan itu membuahkan hasil. Kolam-kolamnya sanggup menghasilkan ribuan bibit lele ukuran 4-10 cm yang rutin diambil oleh tengkulak. Sekali panen, sekitar 2.000 ekor atau dua kuintal bibit lele berpindah tangan, menjadi penggerak roda ekonominya.
Aroma tanah basah bercampur aroma pakan fermentasi tercium saat mendekati area kandang. Sejak Desember lalu, tanggung jawab Sumarno bertambah berat. Ia dipercaya mengelola 600 ekor ayam petelur jenis Lohman bantuan dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Solo untuk Kelompok Tani Banyuanyar Mukti. “Karena keterbatasan tempat di anggota lain, akhirnya perawatan ayam sepenuhnya dipercayakan kepada saya. Saya yang ngerumat ayam-ayam ini,” jelasnya dengan nada bangga.
Sumarno memperlakukan ayam-ayamnya layaknya tamu istimewa. Kandang dibangun menghadap persawahan agar suasana tenang dan bebas stres—faktor kunci agar ayam rajin bertelur. Tak hanya pakan, Sumarno meracik "jamu" khusus berupa enzim alami hasil fermentasi sisa makanan. Hasilnya? Ayam-ayamnya tampak sehat, lincah, dan jauh dari paparan zat kimia.
Kejeniusan Sumarno terletak pada kemampuannya menciptakan sistem sirkular. Tak ada limbah yang terbuang percuma di tangan pria ini. Kotoran ayam ia gunakan sebagai media tumbuh maggot. Maggot-maggot gemuk kaya protein itu kemudian ia berikan kepada ikan lele sebagai pakan tambahan.
“Semua dibuat saling terhubung supaya tidak ada yang terbuang,” ujarnya.
Di sela-sela aktivitas beternak, Sumarno juga menanam kangkung, cabai, hingga ubi. Setiap pagi, teras rumahnya berubah menjadi "pasar mini". Sayuran segar ikatannya dijual hanya seharga Rp 2.000.
“Alhamdulillah laris terus, mungkin karena lebih murah dibanding harga pasar,” tambahnya dengan senyum tipis yang tulus.
Bagi Sumarno, ketahanan pangan bukan sekadar jargon pemerintah. Ia adalah praktik nyata tentang bagaimana bertahan hidup dengan martabat.
“Ketahanan pangan itu harus dimulai dari rumah sendiri. Setidaknya saya bisa hidup dari apa yang sudah saya tanam, meskipun suatu saat tidak lagi pegang uang,” ujarnya di antara hijau tanaman dan riuh ayam-ayamnya. (alf/bun)
Editor : Kabun Triyatno