RADARSOLO.COM - Di sebuah sudut Kampung Dawung, Serengan, delapan tahun silam, sekelompok pemuda hanya duduk melingkar, berbagi tawa dan mimpi di tengah riuh rendah suasana perkampungan Solo. Siapa sangka, dari sekadar tongkrongan sederhana itu, lahir sebuah kekuatan rock yang kini menjadi salah satu kebanggaan Kota Bengawan di kancah musik nasional. Mereka adalah MCPR—Modern Canine Punk Rock
Sejak 2016, MCPR telah melintasi jalan panjang yang penuh keringat dan distorsi. Kini, nama mereka bukan lagi sekadar jagoan kandang, melainkan unit rock yang lagu-lagunya telah merasuk ke dalam playlist anak muda di seluruh penjuru negeri.
Bagi MCPR, musik bukan sekadar urusan tangga lagu. Ia adalah sikap. Hal ini tertuang dalam salah satu nomor andalan mereka, "Punk is Attitude". Dengan lirik yang lugas dan melodi yang mudah menempel di ingatan (catchy), mereka berhasil memotret kegelisahan serta gairah hidup anak muda dengan jujur.
"Dari awal, kami hanya ingin membuat musik yang kami suka," ujar Hendra, sang gitaris. "Namun melihat sekarang kami memiliki penggemar setia di seluruh Indonesia, itu adalah bonus dari sebuah konsistensi."
Hingga saat ini, MCPR telah menelurkan tiga album studio. Karya terbaru mereka, “Song for Praiders" (2023), menjadi bukti kedewasaan bermusik mereka. Melalui lagu seperti "Bara Dalam Gulita", MCPR seolah ingin mengajak pendengarnya melarikan diri sejenak dari penatnya realitas. "Kami ingin membawa orang ke dunia yang berbeda. Dunia yang penuh warna dan inspirasi," tambah Hendra.
Loncatan MCPR dari gang sempit Dawung ke panggung besar benar-benar luar biasa. Mereka tercatat pernah menggetarkan panggung-panggung raksasa seperti Rock in Solo, Pesta Pora, hingga Hellprint. Pengalaman berbagi panggung dengan nama-nama besar sekelas Slank hingga Superman Is Dead (SID) semakin mengukuhkan taji mereka di lini rock tanah air.
Di balik gemerlap lampu panggung, ada satu energi yang tak pernah padam yaitu Praiders. Begitulah sebutan bagi basis massa setia mereka. Bagi Hendra dan personel lainnya, Praiders bukan sekadar penonton di barisan depan, melainkan keluarga yang menjadi bahan bakar utama MCPR untuk terus melaju.
Pada 2026 ini, MCPR tidak menunjukkan tanda-tanda untuk melambat. Sebuah album baru tengah digodok dan siap dilepas ke pasaran sebagai amunisi selanjutnya. Target mereka tetap konsisten dan berani: membawa marwah Kota Solo ke level yang lebih tinggi di peta musik nasional.
"Kami ingin menjadi band yang mewakili Solo di lini rock," tegas Hendra mantap.
Dari riuh rendah Dawung menuju sorotan lampu panggung nasional, MCPR adalah bukti bahwa mimpi yang dimulai dari sebuah tongkrongan, jika diseriusi dengan sikap dan karya yang jujur, akan mampu menggetarkan dunia. Solo tidak hanya punya batik dan selat, kini Solo punya MCPR yang siap meledakkan distorsi di telinga Indonesia. (rif/bun)
Editor : Kabun Triyatno