Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Perjuangan Sunyi Satu Tahun Tunanetra di Solo Belajar Membaca Alquran Braille

Hernindya Jalu Aditya Mahardika • Jumat, 27 Februari 2026 | 15:45 WIB

Para tuna netra di Rumah Pelayanan Sosial Bhakti Candrasa Solo belajar membaca Alquran Braille, Kamis kemarin (26/2). (M. Ihsan/Radar Solo)
Para tuna netra di Rumah Pelayanan Sosial Bhakti Candrasa Solo belajar membaca Alquran Braille, Kamis kemarin (26/2). (M. Ihsan/Radar Solo)

RADARSOLO.COM - Di sebuah ruang belajar yang tenang di Rumah Pelayanan Sosial Bhakti Candrasa Solo, suara bising kota seolah meredup, digantikan oleh lantunan ayat suci yang lirih namun mantap. Ramadan tahun ini kembali menjadi saksi perjuangan luar biasa bagi 45 penyandang tunanetra yang sedang "melihat" dunia melalui ujung jari mereka.

Di atas lembaran kertas tebal penuh titik-titik timbul, jari-jari mereka menari pelan. Setiap rabaan adalah pencarian makna, dan setiap titik yang terasa adalah satu langkah lebih dekat menuju cahaya spiritual.

Ramadan bagi para penerima manfaat di Bhakti Candrasa bukan sekadar tentang menahan haus dan lapar. Ini adalah masa di mana intensitas tadarus ditingkatkan hingga berlipat ganda. Pengajar Bhakti Candrasa, Sartono, mengungkapkan bahwa suasana religius bulan suci menjadi energi tambahan bagi para siswa.

Alhamdulillah, terutama di Ramadan ini pembelajaran sangat ditekankan. Sebelum Ramadan kami sudah mulai pembiasaan tadarus bersama, lalu dilanjutkan dengan kajian untuk memperdalam pemahaman ayat,” ujar Sartono saat ditemui, Kamis kemarin (26/2).

Mempelajari Alquran Braille bukanlah perkara instan. Untuk angkatan baru ini, mereka harus melewati fase adaptasi yang panjang. Rata-rata, seorang siswa membutuhkan waktu 6 bulan hingga satu tahun untuk benar-benar mahir.

Tiga bulan pertama adalah "perkenalan" dengan huruf Braille latin. Barulah pada triwulan berikutnya, mereka mulai bersentuhan dengan huruf Braille Arab dan buku Iqro Braille. Kesulitannya terletak pada detail; sistem Braille hanya berbasis pada kombinasi enam titik dasar.

“Buku Braille Arab itu lengkap dengan harakatnya. Sekilas bentuknya mungkin sama, tapi fungsinya beda. Huruf Dal mungkin terasa mirip dengan huruf D latin, tapi fungsinya berbeda total. Membedakan antara Shod, Shin, atau Syin membutuhkan ketelitian tingkat tinggi karena salah raba satu titik saja, maknanya bisa berubah,” jelas Sartono detail.

Bhakti Candrasa memberikan batas waktu maksimal tiga tahun bagi setiap siswa untuk menuntaskan program mereka. Targetnya jelas, saat kembali ke masyarakat nanti, mereka tidak hanya mampu membaca Alquran secara mandiri, tetapi juga memiliki bekal keterampilan mental yang kuat.

Lembaga ini juga terus membuka pintu bagi penyandang tuna netra lain yang rindu akan literasi Alquran. Masyarakat diajak untuk proaktif merekomendasikan keluarga atau kerabat yang membutuhkan bimbingan ini agar cahaya Alquran bisa menjangkau lebih banyak hati.

Baca Juga: Kisah Lansia Semanggi Menyulap Puing Menjadi Pangan: Dulu Naik Turun Tebing Cair Air, Kini Bermimpi Jadi Agrowisata

Di tempat ini, keterbatasan penglihatan tidak pernah menjadi penghalang untuk bersentuhan dengan Sang Pencipta. Ramadan di Bhakti Candrasa adalah bukti nyata bahwa ketika mata dunia tertutup, mata hati justru terbuka lebar melalui rabaan jari-jari yang khusyuk di atas baris-baris firman-Nya. (atn/bun)

 

Editor : Kabun Triyatno
#adaptasi #Braile #Alquran #Ramadan #tunanetra #membaca #tadarus