Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Air Mata Sukri, Buruh Serabutan Sragen: Tak Menyangka Gubuk Peninggalan 1965 Bakal Direnovasi Gubernur Ahmad Luthfi

Kabun Triyatno • Rabu, 4 Maret 2026 | 13:48 WIB

Gubernur Jateng Ahmad Luthfi beri bantuan perbaikan RTLH milik Sukri, warga Plumbon, Gondang, Sragen, Rabu (4/3/2026). (Humas Pemprov Jateng)
Gubernur Jateng Ahmad Luthfi beri bantuan perbaikan RTLH milik Sukri, warga Plumbon, Gondang, Sragen, Rabu (4/3/2026). (Humas Pemprov Jateng)

RADARSOLO.COM - Matahari masih sepenggalah pada Rabu (4/3) pagi, saat debu di Dusun Plumbon, Desa Gondang, tersingkap oleh kedatangan rombongan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi. Langkah kakinya terhenti di depan sebuah hunian yang jauh dari kata layak. Dinding bambu yang bolong dilapisi terpal, atap seng yang lapuk, dan lantai tanah yang hanya tertutup sisa-sisa baliho bekas.

Di ambang pintu rumah peninggalan tahun 1965 itu, sang pemilik, Sukri, berdiri mematung. Air mukanya tak mampu menyembunyikan badai emosi. Bulir-bulir air mata menetes di pipinya—bukan karena sedih, melainkan haru yang membuncah karena gubuknya didatangi orang nomor satu di Jawa Tengah.

Melihat sambutan dari tuan rumah, Ahmad Luthfi  menghampiri Sukri. Ia mencoba menenangkan pria yang sehari-hari bekerja sebagai buruh serabutan itu.

Melihat tuan rumah yang terisak, Ahmad Luthfi langsung menghampiri dan merangkul pundak buruh serabutan tersebut. Dengan bahasa yang membumi, Luthfi mencoba menenangkan hati Sukri yang masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

“Ini nanti dibangun semuanya, Pak. Dinding, lantai, atapnya semua diganti. Panjenengan (Anda) nanti bisa tidur di kasur yang lebih empuk. Wis, ora usah mikir sedih-sedih,” kata Luthfi menenangkan.

Gubernur menegaskan bahwa intervensi pemerintah tidak hanya berhenti pada urusan semen dan bata. Ia menginstruksikan jajarannya untuk membedah masalah keluarga Sukri secara menyeluruh.

“Kalau anaknya ada yang putus sekolah, kita sekolahkan. Kalau butuh pekerjaan, bantuan sosialnya juga kita dorong,” tegasnya.

Bagi Sukri, rumah tersebut adalah satu-satunya harta yang tersisa dari orang tuanya. Ia telah menempati hunian itu sejak 61 tahun silam. Namun, kerasnya hidup sebagai pekerja serabutan membuatnya tak berdaya melihat rumahnya perlahan dimakan usia.

“Saya tinggal di sini sudah lama sekali, sejak tahun '65. Dulu waktu orang tua masih ada, kondisinya masih mending. Sekarang apa adanya karena penghasilan saya tidak menentu,” ungkap Sukri sambil sesekali menyeka sisa air mata.

Rumah Sukri kini resmi masuk dalam daftar program perbaikan rumah tidak layak huni (RTLH). Gubuk bambu itu akan disulap menjadi hunian permanen dengan dinding kokoh, atap genteng yang baru, lantai plester, hingga perbaikan sanitasinya.

Program ini merupakan bagian dari langkah masif Pemerintah Provinsi Jawa Tengah untuk mengikis angka kemiskinan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat berpenghasilan rendah.

Pada 2025, Pemprov Jateng sukses memperbaiki 17.000 unit RTLH, dengan 350 unit di antaranya berada di Kabupaten Sragen. Sedangkan 2026 ini target dipatok pada angka 10.000 unit RTLH se-Jawa Tengah, di mana 303 unit dialokasikan khusus untuk warga Sragen yang membutuhkan. Langkah ini juga menjadi sokongan kuat bagi program strategis nasional untuk menciptakan 3 juta rumah layak huni bagi rakyat. (kmp/bun)

Editor : Kabun Triyatno
#rumah tidak layak huni #bantuan sosial #pemprov jateng #hunian #Perbaikan #Gubernur Jateng Ahmad Luthfi