Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features

Saat 'Setan-Setan' Metrodanan Turun ke Gang untuk Membangunkan Warga Sahur

Kabun Triyatno • Minggu, 15 Maret 2026 | 15:48 WIB

Warga Metrodanan berdandan ala setan untuk membangunkan warga untuk sahur. (A Christian/Radar Solo)
Warga Metrodanan berdandan ala setan untuk membangunkan warga untuk sahur. (A Christian/Radar Solo)

 

RADARSOLO.COM - Jarum jam baru saja melewati pukul dua dini hari. Keheningan di Kampung Metrodanan, Pasar Kliwon, biasanya hanya dipecah oleh gonggongan anjing atau deru angin sungai. Namun, di bawah remang lampu jalan, pemandangan ganjil mendadak muncul dari balik tikungan gang sempit. Bukannya sosok bersarung yang membawa beduk, melainkan segerombolan sosok menyeramkan dengan wajah putih pucat, rambut awut-awutan, hingga kostum "jin" yang berkelebat di kegelapan.

Jangan lari dulu. Sebab, meski tampilannya mampu membuat bulu kuduk berdiri, "setan-setan" ini punya misi yang sangat mulia: memastikan tidak ada satu pun warga Metrodanan yang terlelap hingga melewatkan waktu sahur.

Tradisi gugah sahur di kampung ini sebenarnya sudah menjadi denyut rutin setiap Ramadan. Namun, sentuhan horor yang mengundang tawa ini baru menguat dalam beberapa tahun terakhir. Ahmad Khanif, sang koordinator aksi, mengenang bahwa gerakan ini awalnya lahir dari kesederhanaan di masa pandemi Covid-19.

“Dulu waktu pandemi kita sudah keliling, tapi ya masih biasa saja, belum pakai kostum,” ujar Khanif sembari merapikan riasan wajahnya, Minggu (15/3).

Seiring waktu, imajinasi para pemuda Metrodanan seolah tak terbendung. Mereka merasa teriakan "Sahur... sahur!" akan jauh lebih efektif dan menarik jika dibarengi dengan visualisasi yang "ngeri-ngeri sedap". Hasilnya? Sebuah teatrikal jalanan dini hari yang kini selalu dinanti warga.

Uniknya, alih-alih membuat anak-anak menangis ketakutan, kehadiran rombongan hantu ini justru menjadi hiburan yang paling ditunggu. Saat sayup-sayup suara rombongan terdengar, jendela-jendela rumah mulai terbuka. Warga, dari yang muda hingga lansia, keluar ke teras dengan ponsel di tangan, siap mengabadikan momen langka tersebut.

“Warga justru antusias. Mereka sengaja menunggu kami lewat untuk merekam video. Anak-anak kecil malah tertawa, karena meski konsepnya hantu, kami buat selucu mungkin agar tidak menakut-nakuti,” tambah Khanif tertawa.

Kostum-kostum ini pun lahir dari semangat gotong royong. Ada yang menjahit sendiri dari bahan seadanya di rumah, ada pula yang patungan uang saku untuk membeli kostum jadi. Semua dilakukan secara sukarela demi menghidupkan suasana kampung.

Rute yang ditempuh rombongan ini tidaklah pendek. Dimulai dengan berkumpul di masjid kampung untuk berkoordinasi, mereka kemudian menyusuri gang-gang kecil yang hanya cukup dilewati bahu ke bahu, berkeliling hingga ke pemukiman di pinggir sungai, sebelum akhirnya kembali ke titik awal.

Bagi warga Metrodanan, aksi pemuda ini adalah bumbu penyedap di bulan suci. Ramadan di sini tidak hanya diisi dengan keriuhan kostum jin, tapi juga kekhusyukan ibadah lainnya, mulai dari kajian Subuh, pengajian anak-anak menjelang buka, hingga puncaknya nanti pada tradisi khataman Alquran di malam ke-27 Ramadan.

Di tengah sunyinya dini hari Kota Solo, para pemuda Metrodanan telah membuktikan bahwa kreativitas bisa mengubah rasa kantuk menjadi tawa, dan tradisi lama bisa tetap relevan dengan sentuhan imajinasi yang tak terbatas. Kini, sahur bukan lagi sekadar urusan mengisi perut, tapi juga momen merayakan kebersamaan dengan cara yang paling unik. (atn/bun)

 

Editor : Kabun Triyatno
#sahur #bulan suci #pemukiman #rumah #kostum #setan