RADARSOLO.COM – Saat sebagian besar remaja seusianya baru saja mencicipi bangku SMP, Alvira Nur Azizah sudah bersiap mengenakan jaket almamater kebanggaan Universitas Airlangga (Unair).
Di usianya yang baru menginjak 14 tahun 7 bulan, Alvira resmi menyandang status sebagai mahasiswa program studi S1 Farmasi melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP).
Pencapaian ini bukan sekadar keberuntungan, melainkan buah dari kedisiplinan dan kecerdasan yang melampaui usianya.
Ada fakta unik di balik usia belia Alvira. Ia bukanlah lulusan program akselerasi yang jamak ditemui. Garis waktu pendidikannya melesat karena ia memulai masa taman kanak-kanak (TK) di usia yang sangat dini.
"Ibu saya sebenarnya sempat berniat menyuruh saya mengulang TK karena sadar usia saya belum cukup untuk masuk Madrasah Ibtidaiyah (MI). Tapi guru TK tidak memperbolehkan karena saya dianggap sudah mampu memahami pelajaran," kenang Alvira bangga.
Baca Juga: Dokter-Dokter Legendaris (Part 2): Sardjito, Dokter Pendidik yang Membangun Fondasi Kesehatan Bangsa
Kejutan berlanjut saat ia mendaftar MI. Kepala sekolah yang sempat ragu berencana menahan Alvira untuk mengulang di kelas 4 atau 5. Namun, hingga kelulusan tiba, instruksi itu tak pernah turun. Alvira justru membuktikan kapasitasnya dengan menjadi wakil sekolah dalam ajang kompetisi sains madrasah (KSM) bidang Matematika.
Sebagai lulusan SMK jurusan Farmasi Industri, Alvira mengaku Unair adalah destinasi impiannya. Untuk menembus ketatnya persaingan SNBP, ia menerapkan disiplin waktu yang ketat.
Baca Juga: Dokter-Dokter Legendaris (Part 3): Moewardi, Dokter Pejuang yang Gugur di Tengah Revolusi
“Tips belajar dari saya adalah mengambil poin-poin penting materi untuk dihafalkan. Waktu paling gampang menerima pelajaran itu malam sebelum tidur dan pagi setelah bangun,” tuturnya.
Rutinitasnya dimulai sehabis salat Magrib hingga pukul delapan malam, sebuah konsistensi yang membawanya lolos di salah satu jurusan farmasi terbaik di Indonesia.
Menjelang perkuliahan, Alvira tak menampik ada rasa gugup menyambut lingkungan yang baru. Namun, motivasinya jauh lebih besar daripada rasa takutnya. Sebagai anak tunggal, ia merasa memikul harapan besar di pundaknya.
"Motto yang saya tanamkan adalah harus berjuang sampai sukses. Saya anak tunggal, harapan orang tua satu-satunya yang bisa dibanggakan," tegas calon apoteker ini mantap.
Bagi Alvira, dunia perkuliahan mungkin akan berbeda jauh dengan masa sekolah, namun ia telah bertekad untuk beradaptasi dengan cepat. Ia juga menitipkan pesan bagi rekan sebaya yang masih berjuang mengejar impian.
"Tetaplah semangat belajar dan jangan menyerah. Jangan lupa berdoa agar diberi kemudahan," pungkasnya.
Kisah Alvira menjadi bukti bahwa usia hanyalah angka, dan kematangan berpikir serta kerja keras adalah kunci utama untuk membuka gerbang kesuksesan di masa depan. (*)
Editor : Kabun Triyatno