Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Menjahit Cerita Lewat Mesin Tik: Misi Beri Hanna Membawa Sastra ke Meja Kedai Kopi Solo

Antonius Christian • Minggu, 12 April 2026 | 17:10 WIB
Beri Hanna sedang menulis puisi dengan mesin ketik di taman rumahnya. (M Ihsan/Radar Solo)
Beri Hanna sedang menulis puisi dengan mesin ketik di taman rumahnya. (M Ihsan/Radar Solo)

 

RADARSOLO.COM – Di tengah hiruk-pikuk kedai kopi masa kini yang didominasi denting sendok dan musik indie, terselip sebuah bunyi yang ganjil namun ritmis: tak-tik-tak-tret! Bunyi itu berasal dari sebuah mesin tik tua yang setia menemani Beri Hanna, 28. Sastrawan asal Jambi yang kini menetap di Solo ini tidak sedang mengerjakan skripsi, ia sedang menjajakan sesuatu yang hampir punah di era digital, puisi instan berbasis rasa.

Bermodalkan potongan kertas book paper berhias ilustrasi ala era 80-an, Beri menyulap meja kecil di sudut kafe menjadi sebuah "bilik pengakuan dosa" sekaligus ruang kreasi sastra yang intim.

Baca Juga: RASOHISTORI: Gunung Lawu Pernah Meletus 25 Hari Tanpa Henti, Catatan Belanda Menuliskan Hal Mengejutkan Tentang Kisah Ini

Beri bukan tipe penulis yang hanya menunggu inspirasi di balik meja kamar. Ia bergerak dinamis, menyusuri warung kopi di Kota Bengawan dengan sebandel proposal kerja sama. Prinsipnya sederhana: sastra harus turun ke jalan dan menyapa orang-orang yang sedang gelisah atau pun mereka yang sekadar ingin merayakan hari.

Mekanismenya unik. Pengunjung kafe datang, duduk, lalu bercerita. "Hanya butuh 1-3 menit dari cerita mereka, lalu segera aku tangkap metafor-metafor untuk kujadikan puisi," ujar alumnus teater ISI Surakarta ini sembari mengambil sebatang rokok dari tote bag putihnya.

Baca Juga: Apparel Asal Sukoharjo Tersemat di Jersey Timnas Timor Leste: Berangkat dari Hobi Jadi Kebanggaan, Ini Kisah Inspiratif Oliver

Kisah yang mampir ke telinga Beri sangat beragam. Mulai dari kecemasan remaja sekolah yang bingung menatap masa depan, hingga orang dewasa berusia 50-an yang sedang menanggung beban kehilangan. Dari percakapan—bahkan dari keheningan—Beri merangkai 4 hingga 8 bait puisi yang personal dan hanya milik si pencerita.

Di tengah gempuran Kecerdasan Buatan (AI) yang bisa menghasilkan ribuan kata dalam sekejap, Beri justru menawarkan ketidaksempurnaan yang humanis. Baginya, puisi yang diketik langsung di depan mata sang empunya cerita memiliki jiwa yang tak bisa digantikan oleh mesin mana pun.

Baca Juga: Kisah Inspiratif BeeFam’s: Berawal dari Relawan Gempa Lombok, Kini Sukses Bisnis Madu Trigona Bersama BRI

“Ini medium yang menarik. Sastra terasa lebih intim karena lahir dari kisah mereka,” ungkapnya.

Beri juga tak mematok tarif. Ia menerapkan sistem bayar seikhlasnya melalui sebuah papan kecil bertuliskan “Thanks for Puisi” lengkap dengan kode QR. Tak jarang, selembar puisi darinya dihargai mulai dari Rp20 ribu hingga Rp150 ribu oleh mereka yang merasa jiwanya terwakili lewat ketukan mesin tiknya.

Kehidupan Beri adalah perpaduan antara seni dan kemandirian ekonomi. Jika sore hingga malam ia menjelma menjadi "tukang jahit kata" di kedai kopi, pagi harinya ia adalah seorang pencukur rambut di Monrow Barber, kawasan Keprabon.

"Kadang ada juga orang yang habis cukur terus minta dibuatkan puisi," katanya terkekeh.

Meski ia telah menghasilkan novel dan cerpen yang menembus pasar nasional dengan nilai jutaan rupiah, proyek puisi jalanan ini memberinya kepuasan yang berbeda. Baginya, novel lahir dari bacaan dan imajinasi sendiri tanpa mengenal siapa pembacanya. Namun lewat puisi mesin tik ini, ia bisa menatap langsung mata orang-orang yang ia tuliskan kisahnya.

Melalui Beri Hanna, Kota Solo diingatkan kembali bahwa sastra bukanlah barang antik yang hanya layak dipajang di museum. Di tangan yang tepat, sastra adalah kawan minum kopi yang hangat, pendengar yang baik, dan pengingat bahwa setiap manusia memiliki cerita yang layak untuk diabadikan—setidaknya dalam beberapa bait puisi di atas kertas kertas kusam. (atn)

Editor : Kabun Triyatno
#Beri Hanna #mesin tik #gelisah #puisi #kafe