Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Nestapa Istri Gepeng Srimulat di Rumah Kontrakan Sempit Bersama 12 Anak dan Cucu

Antonius Christian • Minggu, 19 April 2026 | 17:42 WIB
Supiyah, istri Gepeng Srimulat. (A Christian/Radar Solo)
Supiyah, istri Gepeng Srimulat. (A Christian/Radar Solo)

RADARSOLO.COM - Hamparan sawah di Mojorejo, Sawahan, Ngemplak, berdiri sebuah berdiri sebuah rumah kontrakan sempit yang menyimpan cerita panjang tentang jatuh bangun kehidupan. Di sanalah, Sejak tiga tahun terakhir Supiyah,70, bertahan.

Ia adalah istri almarhum Gepeng Srimulat, sosok yang dulu menghibur jutaan masyarakat bersama grup lawak legendaris Srimulat. Namun kini, jauh dari sorot lampu panggung, Supiyah justru harus menghadapi realitas hidup yang keras.

Baca Juga: Kisah Hadi dan Sutiyah: Penjual Jamu Boyolali yang Naik Haji Setelah 30 Tahun Menabung

Bersama anak, menantu, dan cucu, total 12 orang, ia tinggal di rumah kontrakan berukuran kurang dari 50 meter persegi. Ruang sempit itu dipenuhi aktivitas sehari-hari yang saling berhimpitan. Tak ada sekat yang benar-benar memberi ruang privasi.

“Ya begini, Mas. Namanya hidup ya dijalani. Yang penting masih bisa makan,” ucap Supiyah pelan saat ditemui Jawa Pos Radar Solo belum lama ini.

Perjalanan hidup Supiyah bukan sekadar tentang kemiskinan hari ini. Ia pernah berada di titik memiliki tempat tinggal, bahkan lebih dari sekali. Namun satu per satu kesempatan itu hilang sebagian karena pilihan hidup, sebagian lagi karena keadaan yang memaksanya menyerah.

Baca Juga: Kisah Dwi Rulianti: Program JKN Jadi Penyelamat Saat Sang Buah Hati Terjangkit DBD

Pada masa Wali Kota Solo Hartomo (1985-1995), Supiyah sempat mendapat bantuan rumah bagi seniman di kawasan Clolo. Kadipiro, Banjarsari. Namun rumah itu ia kembalikan.

“Kalau saya mau nakal, dulu bisa saya jual. Tapi saya tidak berani. Saya kembalikan saja,” kenangnya.

Keputusan itu diambil karena ia merasa tidak nyaman tinggal di lingkungan tersebut, sementara kondisi keluarga saat itu juga belum memungkinkan. "Karena waktu itu saya harus merawat orang tua saya yang sakit, jadi takut kalau beliau waktu itu tidak nyaman.

Baca Juga: Kisah Sukses Ayam Panggang Bu Setu, Kuliner Favorit Magetan yang Bertahan 35 Tahun Berkat Pemberdayaan BRI

Supiyah bercerita, rumah yang pernah dimilikinya akhirnya harus digadaikan karena kebutuhan ekonomi. Sebab dia harus menghidupi anak, serta sanggar ketoprak milik almarhum suami yang kala itu pamornya mulai menurun. Nilainya tak seberapa, sekitar ratusan ribu rupiah. Namun dari situlah masalah bermula.

“Saya dulu pernah punya rumah di Banyuanyar. Tapi saya gadaikan. Cuma sekitar dua ratus lima puluh ribu. Kudu bayari pemain ketoprak itu, buat bayar gaji mereka,” ungkapnya.

Ia tak pernah menyangka, rumah itu kemudian benar-benar hilang dari tangannya. Tanpa proses yang ia pahami sepenuhnya, rumah tersebut berpindah tangan.

“Saya tidak merasa menjual. Tanda tangan saja tidak. Jadi orang yang minjamin saya uang itu meninggal, tiba-tiba rumah itu sudah bukan milik saya,” katanya lirih.

Bagi Supiyah, kehilangan itu bukan hanya soal bangunan, tetapi juga tempat berpijak yang memberi rasa aman bagi keluarga. “Kalau sudah hilang begitu, ya saya mau apa lagi,” ucapnya pasrah.

Baca Juga: Dikuliti Netizen! Sosok Mertua Dwi Sasetyaningtyas Terungkap, Ini Profil Syukur Iwantoro Eks Pejabat Kementan Pernah Diperiksa KPK

Harapan sempat muncul kembali saat masa kepemimpinan Joko Widodo di Solo. Supiyah pernah mengajukan bantuan, namun ia tidak meminta rumah. Ia justru menolak tawaran hunian rumah susun.

“Saya bukan menolak, tapi kalau di rusun itu kan ada biaya. Saya mikirnya, bagaimana saya bisa hidup sehari-hari,” jelasnya.

Bagi Supiyah, persoalan utamanya bukan sekadar tempat tinggal, melainkan penghasilan. “Saya itu mintanya modal usaha sama tempat jualan. Kalau saya bisa jualan, saya bisa makan, bisa hidup,” katanya.

Baca Juga: Apparel Asal Sukoharjo Tersemat di Jersey Timnas Timor Leste: Berangkat dari Hobi Jadi Kebanggaan, Ini Kisah Inspiratif Oliver

Upaya untuk mandiri sebenarnya sudah ia lakukan. Supiyah pernah mencoba berjualan lauk-pauk dengan sistem titip di warung. Setiap hari, ia bangun sekitar pukul 02.30 dini hari untuk menyiapkan dagangan. Namun hasilnya jauh dari cukup.

“Modal tiga ratus ribu, pulangnya paling lima puluh ribu. Itu pun tidak cukup buat makan cucu-cucu,” ujarnya.

Setelah beberapa kali merugi, ia akhirnya menyerah. Usia yang tak lagi muda dan keterbatasan tenaga membuatnya tak mampu melanjutkan usaha tersebut. Kini, tidak ada lagi aktivitas jualan. Hari-harinya lebih banyak dihabiskan di rumah, mengurus cucu, dan menunggu bantuan datang.

Untuk bertahan hidup, Supiyah mengandalkan bantuan yang tidak menentu. Sesekali ia mendapat bantuan beras dari program pemerintah. “Kadang dapat raskin. Itu yang dimakan. Kalau tidak ya seadanya,” katanya.

Anak-anaknya pun sebenarnya berusaha membantu. Namun kondisi ekonomi mereka juga terbatas. “Anak saya juga punya keluarga sendiri. Saya tidak tega minta terus,” ujarnya.

Nama besar Srimulat kini hanya tinggal kenangan. Supiyah mengaku hampir tidak pernah lagi didatangi rekan-rekan lama dari dunia hiburan. “Sudah tidak ada yang ke sini,” ucapnya singkat.

Sesekali ada panggilan tampil atau bantuan kecil, namun itu sangat jarang terjadi. Ia pun memilih untuk tidak menggantungkan harapan. “Kalau berharap tapi tidak ada, malah sakit hati,” katanya.

Kini, di usia 70 tahun, Supiyah tidak lagi memikirkan hal besar. Ia hanya ingin bisa bertahan hidup bersama keluarganya. Di tengah keterbatasan, Supiyah masih menyimpan harapan. Ia bahkan menuliskan permohonan langsung kepada Wali Kota Solo Respati Ardi awal pekan lalu 

Dalam surat tersebut, ia memperkenalkan dirinya sebagai janda almarhum Gepeng Srimulat yang kini hidup dalam kondisi miskin, tanpa rumah tetap, dan tanpa pekerjaan pasti.

“Di usia lebih dari 71 tahun, saya tidak mempunyai rumah tinggal yang tetap, hidup mengontrak berpindah-pindah, dan sudah tidak mempunyai pekerjaan,” tulisnya.

Ia menyebut, pekerjaan yang masih bisa dilakukan hanyalah sebagai tukang pijat dan buruh cuci, itu pun tidak menentu. “Hal tersebut menjadikan kehidupan saya di masa tua terasa sangat berat,” lanjutnya.

Melalui surat itu, Supiyah memohon bantuan berupa hunian rumah susun serta modal usaha kecil agar bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Saya memohon kepada bapak wali kota untuk berkenan sekiranya saya dapat dibantu mendapatkan rumah susun dan bantuan modal supaya saya dapat memulai usaha,” tulisnya.

Harapannya sederhana, tidak lagi berpindah-pindah tempat tinggal dan memiliki penghasilan untuk bertahan hidup. “Saya hanya ingin punya tempat tinggal tetap dan usaha untuk kehidupan sehari-hari,” ungkapnya. (atn)

 

Editor : Kabun Triyatno
#Gepeng Srimulat #Supiyah #panggung