RADARSOLO.COM - Di balik tembok tinggi dan kawat berduri Rutan Kelas IA Solo, aktor Erick Estrada tidak sedang memerankan sebuah karakter. Untuk pertama kalinya, ia berdiri di balik lensa sebagai sutradara. Namun, jangan harap menemukan tumpukan naskah atau skenario berlapis di mejanya. Film pendek bertajuk “Napi: Pesan dari Dalam” ini lahir dari sebuah konsep yang radikal: film yang tidak dibuat-buat, melainkan ditemukan.
Melalui karya perdananya ini, Erick mencoba meruntuhkan tembok stigma yang selama ini mengurung persepsi masyarakat terhadap warga binaan.
Baca Juga: Kisah Hany Ubro: Mantri Perempuan BRI Penakluk Medan Ekstrem di Kepulauan Kei Besar
Selama ini, narasi tentang penjara kerap terjebak dalam stereotip kelam; tempat yang kumuh, keras, dan sarat penyimpangan. Namun, Erick menemukan realitas yang 180 derajat berbeda. Ia memilih untuk membiarkan kamera menangkap kejujuran yang mentah.
“Ini satu-satunya film saya yang tanpa naskah. Saya tidak menciptakan cerita dari nol, tapi menemukan cerita yang sudah ada di sini,” ujar Erick dengan mata berbinar, Minggu kemarin (26/4).
Tanpa skenario rinci, Erick hanya merancang alur besar. Selebihnya, ia memberikan panggung sepenuhnya kepada para warga binaan. Dialog-dialog lahir secara spontan, mengalir dari pahit getirnya pengalaman hidup mereka sendiri. Hasilnya? Sebuah performa yang menurut Erick 10 kali lebih kuat dan natural dibandingkan aktor profesional.
Dalam proses risetnya, Erick mendapati bahwa rutan kini telah bertransformasi menjadi bengkel kemanusiaan. Di balik jeruji, mereka tidak hanya menjalani hukuman, tetapi sedang dipersenjatai dengan harapan. Ada yang mahir membatik, memperbaiki mesin, hingga meracik kopi dengan standar barista profesional.
“Selama ini kita sering melihat film yang menggambarkan mantan napi sulit dapat kerja. Tapi di sini, mereka justru dipersiapkan untuk mandiri. Keluar dari sini, mereka malah bisa jadi wirausaha dan membuka lapangan kerja bagi kita yang di luar,” jelas Erick.
Film berdurasi 20 menit ini menjadi medium untuk menyampaikan pesan sederhana namun menghunjam, setiap manusia berhak atas kesempatan kedua.
Baca Juga: Kisah Hadi dan Sutiyah: Penjual Jamu Boyolali yang Naik Haji Setelah 30 Tahun Menabung
Gagasan film ini bermula dari obrolan santai saat Idulfitri antara Erick dan Kepala Rutan Klas IA Surakarta, Bhanad Shofa Kurniawan. Berawal dari keinginan untuk mengangkat sisi lain kehidupan rutan, ide tersebut kini membengkak menjadi sebuah karya yang siap bertarung di festival film nasional maupun internasional.
Proses produksinya sendiri menghadirkan dinamika unik. Erick harus menyatukan dua kutub: petugas rutan dan warga binaan. Meski penuh tantangan dan pengulangan adegan karena faktor teknis, energi kebersamaan membuat segalanya terasa cair. “Di sini saya bukan cuma sutradara, tapi sudah jadi bagian dari keluarga besar Rutan Surakarta,” tuturnya.
Kepala Rutan Kelas 1A Solo Bhanad Shofa Kurniawan menegaskan, film ini adalah senjata strategis untuk membalikkan pola pikir masyarakat. Ia ingin publik melihat warga binaan bukan sebagai pelaku kejahatan abadi, melainkan individu yang sedang dalam proses pemulihan.
“Mereka bukan penjahat, tapi orang yang tersesat. Dan kita semua punya tanggung jawab untuk memulihkan kehidupan mereka,” tegas Bhanad. Ia pun berharap masyarakat dapat menjadi support system yang inklusif saat mereka kembali menghirup udara bebas kelak.
Melalui “Napi: Pesan dari Dalam”, Erick Estrada tidak hanya menyutradarai sebuah film, ia sedang menyutradarai sebuah perubahan sudut pandang. Bahwa di balik jeruji besi, ketulusan dan keberanian untuk berubah itu nyata adanya. (atn/bun)
Editor : Kabun Triyatno