Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Kisah Sekar Tri Kusuma, Dari Vonis Dokter hingga Panggung Duni

Alfida Nurcholisah • Kamis, 30 April 2026 | 17:32 WIB
Sekar Tri Kusuma membawakan tari pada Hari Tari Dunia di ISI Solo.
Sekar Tri Kusuma membawakan tari pada Hari Tari Dunia di ISI Solo.

RADARSOLO.COM - Di sudut Desa Plesungan, Gondangrejo, Karanganyar, hamparan sawah di sekitar rumah menjadi pemandangan masa kecil Sekar Tri Kusuma. Perempuan yang lahir pada 23 November 1999 ini memiliki ketertarikan dengan dunia tari sejak kecil. Ayah dan ibunya adalah penari, sejak kecil ia sering kali diajak melihat pertunjukan. Dari situlah benih kecintaanya pada tari mulai tumbuh.

“Memang sejak kecil sudah sering nonton pertunjukan tari. Jadi rasa tertariknya tumbuh di lingkungan keluarga,” ujarnya setelah empat jam menari, Rabu (29/4).

Baca Juga: Kisah Mantri BRI di Pegunungan Kolaka Utara, Sosok Kartini Modern Penembus Medan Terjal Demi Ekonomi Desa

Ketertarikan dia pada tari membawanya masuk ke SMK 8—sekolah yang konsen pada jurusan seni dan lanjut studi di Institut Seni Indonesia (ISI) Solo. Dari sana ia mulai belajar mengasah kemampuan gerakan lekuk tubuh, kecepatan, tempo, dan irama tarian melalui video YouTube.

Selain gawai, ia juga kerap berinteraksi dan belajar secara langsung teknik-teknik menari dengan berbagai orang yang ia temu. Dari interaksi Ia belajar memadukan seni tradisi menjadi kaya kontemporer yang lentur dengan zaman.

Baca Juga: Melawan Waktu dengan Kayuhan Klasik: Kisah Solo Raya Vintage Roadbike Menjaga Marwah Sepeda Balap Lawas

Langkahnya bahkan sempat melampaui batas negara. Dalam sejumlah program residensi di luar negeri, Sekar menemukan cara baru membaca gerak. Lingkungan yang berbeda memberinya inspirasi untuk menciptakan gerakan yang lahir dari interaksi antar ruang, budaya, dan manusia yang ia temui.

Namun perjalanan itu tidak selalu mulus. Ia pernah mengalami kecelakaan serius hingga mengalami dislokasi di kaki dan tidak bisa berjalan. Ia divonis oleh beberapa dokter untuk berhenti menari.

Baca Juga: Kisah Hadi dan Sutiyah: Penjual Jamu Boyolali yang Naik Haji Setelah 30 Tahun Menabung

“Sayangnya aku ngeyel untuk tetap menari. Pada akhirnya hal itu memperparah keadaanku. Dari dokter ke dokter lain vonisnya sama, mereka bilang ini tidak bisa sembuh. Dan disarankan untuk berhenti menari,” kenangnya sembari meliukkan jari jemari lentiknya.

Alih-alih menyerah, Sekar malah memilih jalan yang lebih sunyi dengan berlatih setiap hari dan melakukan stretching yang perlahan membangun kembali tubuhnya.

“Menari itu seperti penderitaan yang saya pilih. Memang menderita, tapi saya mencintai penderitaan ini,” katanya tersenyum mulai menggerakkan kakinya.

Keputusan itu bukan tanpa persiapan. Sejak Desember, ia mulai mengatur pola hidup dengan rutin berolahraga, berenang, menjaga asupan makanan, hingga memperbanyak konsumsi buah. Namun lebih dari itu, ia juga melatih sisi yang tak kasat mata, yaitu olah pikiran dan jiwa.

Meditasi menjadi bagian penting dalam prosesnya. Bahkan, ia pernah menjalani meditasi selama 10 hari berturut-turut dengan bimbingan mentor.

“Karena untuk menari dalam durasi yang panjang itu kita tidak hanya butuh fisik yang terlihat, tapi lebih dalam kepada energi yang kita ciptakan dari setiap gerakan. Yang susah adalah mengatur staminanya untuk tetap stabil," ungkapnya.

Bahkan saat makan atau beristirahat sejenak, tubuhnya tetap harus bergerak, setidaknya tangan, kaki, atau kepala.

Bagi Sekar, menari bukan sekadar profesi, tetapi jalan hidup. Ia menyadari banyak orang meragukan masa depan di dunia tari. Namun dari orang tua dan gurunya, ia belajar bahwa nilai seni tidak semata diukur dari materi.

Optimisme itu pula yang mendorongnya membangun program kolektif bernama “Ring 1”, sebuah ruang pelatihan keprofesian seni. Ia ingin mengubah cara pandang bahwa seni bukan hanya hobi yang dibayar, melainkan bidang profesional yang memiliki strategi yang berkelanjutan.

“Kalau kita tidak membagikan apa yang kita punya, rasanya akan sia-sia,” ujarnya.

Dalam perhelatan Hari Tari Dunia, Sekar membawakan karya berjudul Sinekar, yang ia kembangkan sejak 2023. Karya itu lahir dari proses panjang, mendokumentasikan gerak tubuhnya sendiri melalui foto dan jurnal.

"Apa makanan yang aku makan, suhu tubuh, jenis makanan, hingga berapa liter air yang aku konsumsi setiap momenku berpose, aku abadikan dalam jurnal," terangnya.

Dari situ, ia menemukan benang merah ketertarikannya tentang isu kesehatan, politik perempuan, dan ekologi. Menariknya, Sinekar tidak membatasi interaksi. Ia justru merespon orang-orang yang hadir di sekitarnya, menjadikan penonton sebagai bagian dari pertunjukan.

“Ritme itu akan saya gunakan dalam pertunjukan saya hari ini. Jadi penonton juga terlibat,” katanya.

Bagi Sekar, menari tidak pernah berhenti di panggung atau durasi tertentu. Ia membayangkan dirinya terus menari bukan hanya 24 jam, tetapi sepanjang hayat.

"Kalau dari vonis dokter aku harus berlatih gerak setiap hari, kenapa aku tidak mencoba untuk menari 24 jam," ujarnya tersenyum. (alf/bun)

Editor : Kabun Triyatno
#seni tradisi #Sekar Tri Kusuma #budaya #tari