Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Kisah Riza Azyumardi Azra Menyejahterakan Petani Singkong Banjarnegara, Mengangkat Harkat Petani lewat Butiran Tepung Mocaf

Kabun Triyatno • Kamis, 14 Mei 2026 | 18:52 WIB
Riza Azyumardi Azra pamerkan produk Mocaf miliknya. (Humas Pemprov Jateng)
Riza Azyumardi Azra pamerkan produk Mocaf miliknya. (Humas Pemprov Jateng)

RADARSOLO.COM - Selama puluhan tahun, singkong kerap dipandang sebelah mata sebagai "pangan kasta kedua" yang identik dengan meja makan kaum papa. Namun, di tangan Riza Azyumardi Azra, ubi kayu ini mengalami metamorfosis luar biasa. Di bawah bendera Rumah Mocaf, singkong tidak lagi sekadar camilan rebus, melainkan telah bertransformasi menjadi tepung Modified Cassava Flour (Mocaf) yang mendunia.

Perjalanan Riza dimulai pada 2015, berangkat dari sebuah kepedulian yang getir. Kala itu, ia menyaksikan air mata para petani yang hasil panennya hanya dihargai Rp200 per kilogram. Sebuah angka yang bahkan tak mampu menutup biaya keringat saat mencangkul.

Baca Juga: Inspiratif! Driver Pesan-Antar Makanan Online Kuliah di Usia 51 Tahun, Sambil Kuliahkan 2 Anaknya

Kini, Rumah Mocaf telah menjadi jantung ekonomi bagi petani singkong di Banjarnegara. Riza menyulap singkong menjadi produk turunan non-gluten yang sehat; mulai dari chocolate chips, chiffon cake, hingga gula cair. Produk ini menjadi oase bagi mereka yang menderita celiac atau alergi gandum.

"Permintaan pasar domestik mencapai 30–40 ton per bulan dan trennya terus naik. Untuk pasar luar negeri, produk kami sudah menembus Oman, Turki, Malaysia, hingga permintaan dari China," ujar Riza saat ditemui di gerainya, Kamis (14/5/2026).

Kesuksesan ini tidak diraih sendiri. Riza membangun ekosistem yang solid, di mana petani tidak hanya menjual umbi mentah, tetapi juga terlibat dalam pengolahan awal menjadi tepung mocaf. Dukungan pemerintah melalui pemberian alat produksi seperti oven dan mesin pengemas turut mempercepat laju produksinya.

Baca Juga: Melawan Waktu dengan Kayuhan Klasik: Kisah Solo Raya Vintage Roadbike Menjaga Marwah Sepeda Balap Lawas

Dampak nyata dari revolusi mocaf ini dirasakan langsung oleh para petani, salah satunya Latif, petani singkong dari Desa Parakan. Ia bercerita bagaimana martabat petani kini kembali terangkat seiring dengan naiknya harga jual singkong yang kini stabil di atas Rp1.000 per kilogram.

"Dulu kalau mau jual harus ke luar kota dan harganya hancur. Sekarang kami siap menampung hasil bumi dengan harga yang lebih tinggi," ungkap Latif. Di desanya, lahan seluas 1–2 hektare mampu memproduksi hingga 21 ton singkong per tahun, di mana sekitar 10–15 ton di antaranya diserap oleh Rumah Mocaf setiap bulan.

Riza memiliki impian besar. Ia berharap tepung mocaf bisa diserap oleh program-program strategis nasional, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG). Namun, ia juga menaruh harapan pada pemerintah agar memberikan subsidi bagi tepung lokal supaya harganya kompetitif melawan dominasi gandum impor.

Baca Juga: Nestapa Istri Gepeng Srimulat di Rumah Kontrakan Sempit Bersama 12 Anak dan Cucu

Gayung bersambut, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah pun kian serius melirik potensi pangan lokal. Sejak 2022, Dinas Ketahanan Pangan Jateng mulai memasukkan produk turunan mocaf seperti mi dan beras singkong sebagai bagian dari Cadangan Pangan Pemerintah (CPP), bersanding dengan komoditas beras.

Melalui Rumah Mocaf, Banjarnegara sedang mengirim pesan ke seluruh penjuru negeri: bahwa kemandirian pangan tidak harus selalu bergantung pada gandum dari negeri seberang. Kekuatan itu ada di bawah tanah kita sendiri, dalam setiap butiran singkong yang kini harganya mulai setara dengan harapan para petani. (*)

Editor : Kabun Triyatno
#Riza Azyumardi Azra #mocaf #Ubi Kayu #petani #singkong