RADARSOLO.COM - Malam di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Sabtu (23/5), terasa begitu luhur. Di bawah temaram lampu gantung yang sakral, seratusan orang lintas generasi duduk bersila dengan takzim. Mereka yang berasal dari Solo bersiap di Bangsal Smarakata, sementara rombongan dari Blitar dan Semarang berbaris rapi mulai dari depan Bangsal Marcukundo sebelum akhirnya melebur menjadi satu.
Malam itu bukan malam pergelaran biasa. Sebanyak 102 siswa Sanggar Pasinaon Pambiwara Keraton Surakarta tengah merayakan puncak kelulusan setelah enam bulan bertaruh ketekunan menyelami samudra kebudayaan Jawa. Acara sakral ini dibuka dengan pengucapan sumpah, dilanjutkan dengan lantunan macapat yang menyayat hati dari para siswa Solo, sebagai pembuka resmi gerbang kelulusan mereka.
Sanggar Pasinaon Pambiwara bukanlah lembaga kemarin sore. Dirintis sejak era Sri Susuhunan Paku Buwono XII pada kurun waktu 1991–1992, sanggar ini resmi memulai kelas pertamanya pada tahun 1993. Sejak saat itu, lembaga ini menjelma menjadi laboratorium kebudayaan Jawa yang sangat inklusif.
“Malam ini adalah puncak pembelajaran. Setelah digembleng dua kali sepekan selama enam bulan, mereka akhirnya diwisuda,” jelas Pangarsa Sanggar Pasinaon Pambiwara BRM Bambang Irawan—atau yang memiliki nama kecil KPH Raditya Lintang Sasongko.
Baca Juga: Tinggalkan Keramaian Kota, Korniawan Arief Hidupkan BUMDes Mati Suri lewat Program Pertanian Terpadu
Hingga angkatan terbaru tahun ini, sanggar telah meluluskan 2.978 siswa dari total 3.778 orang yang pernah mendaftar. Menariknya, latar belakang para pencari ilmu ini sangat beragam. Mulai dari dosen, kepala desa, aparatur sipil negara (ASN), pensiunan TNI/Polri, hingga siswa yang masih duduk di bangku SMP.
Untuk memastikan ilmu yang didapat tidak mandek sebagai teori di atas kertas, sanggar ini menerapkan formula kurikulum 60 persen praktik dan 40 persen teori. Para siswa tidak hanya dicekoki materi umum seperti Kebudayaan Jawa, Pancasila, serta Tata Krama dan Kesusilaan.
Baca Juga: Inspiratif! Driver Pesan-Antar Makanan Online Kuliah di Usia 51 Tahun, Sambil Kuliahkan 2 Anaknya
Mereka diwajibkan mempraktikkan langsung seni Aksara Jawa, tata busana dan rias pengantin, kawruh gending (gamelan), kawruh beksan (tarian), hingga teknik pranatacara atau pembawa acara (MC) untuk upacara adat dan pernikahan resmi. Selama masa belajar, mereka juga diajak melihat langsung arsitektur dan upacara internal keraton, serta berziarah ke pamantingan agung Makam Raja-raja Mataram Islam di Imogiri, Jogjakarta.
“Para dwijo (guru) yang terlibat adalah pelaku budaya sejati. Bahkan, sebagian yang sepuh dahulu belajar langsung di bawah pengawasan PB XII, sebelum akhirnya ilmu itu diestafetkan kepada para siswa di sini,” tambah BRM Bambang Irawan yang malam itu turut mempersembahkan sebuah tarian baru gubahannya, Wireng Lintang Sesinggah.
Keseriusan keraton dalam bergerak di bidang pelestarian bahasa bahkan melahirkan kosakata baru yang kini lazim digunakan di masyarakat, yaitu Pambiwara, sebuah bentuk pengembangan dari istilah lama Pranatacara.
Salah satu dwijo senior sanggar, KP Budoyoningrat menyatakan rasa syukurnya atas pergeseran tren usia siswa dalam beberapa tahun terakhir. Jika dulu sanggar didominasi oleh kaum tua atau pensiunan, kini gelombang anak muda mulai memadati bangku-bangku kelas pambiwara.
"Pambiwara ini adalah cara keraton agar budaya leluhur tetap hidup di tengah masyarakat modern. Sekarang banyak anak muda yang ikut serta. Ini bukti nyata bahwa kebudayaan asli mulai kembali diminati generasi Z, dan tugas kita adalah terus mendorongnya," pungkas KP Budoyoningrat.
Di tengah gempuran modernisasi kota, Keraton Surakarta membuktikan dirinya bukan sekadar monumen batu dan kayu yang mati. Melalui bait-bait macapat dan tata krama yang diajarkan di Sanggar Pambiwara, mereka terus menanam benih, memastikan bahwa orang Jawa tidak akan pernah kehilangan jati diri dan bahasa ibunya. (ves/bun)
Editor : Kabun Triyatno