Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Cara Airell Luthfan-Naufal Sa’ad Hidupkan Sejarah Kolonial lewat Klaten Lampau

Angga Purenda • Rabu, 27 Mei 2026 | 17:56 WIB
Airell dan Naufal menjelaskan ke peserta dalam kegiatan walking tour bertajuk Berjalan ke Stadion Trikoyo Klaten. (Angga Purenda/Radar Solo)
Airell dan Naufal menjelaskan ke peserta dalam kegiatan walking tour bertajuk Berjalan ke Stadion Trikoyo Klaten. (Angga Purenda/Radar Solo)

RADARSOLO.COM - Selama ini, ingatan kolektif masyarakat tentang sejarah Kabupaten Klaten seolah selalu tertambat pada kemegahan candi-candi batu dari era klasik Hindu-Buddha. Klaten kerap diidentikkan dengan Prambanan atau Plaosan, seakan-akan linimasa kotanya berhenti setelah runtuhnya era kerajaan kuno.

Namun, di tangan dua pemuda berusia 26 tahun, Airell Luthfan Ababiel dan Naufal Sa’ad, narasi usang itu coba didekonstruksi. Alumnus Ilmu Sejarah Universitas Diponegoro (Undip) Semarang ini sepakat turun ke jalan, membedah arsip-arsip berdebu, demi menghidupkan kembali romatika Klaten masa kolonial hingga era berdarah mempertahankan kemerikaan. Melalui wadah bernama Komunitas Klaten Lampau, keduanya sedang menuntun generasi Z untuk mengenal kembali jati diri kota mereka sendiri.

Baca Juga: Jalan Kaki dari Jepara, 17 Bhikkhu Thudong Tiba di Vihara Veluvana Boyolali

Komunitas ini tergolong masih seumur jagung, resmi dideklarasikan pada 20 Desember 2025 lalu. Kelahirannya dipicu oleh kegelisahan mendalam melihat minimnya ruang literasi yang membahas sejarah modern Klaten.

"Keresahan kami berdua melihat potensi Klaten dari segi sejarahnya jarang digali. Yang sering muncul kan masa klasik, nah yang belum muncul itu masa kolonial dan kemerdekaan. Kami ingin membentuk wadah pembelajaran bagi generasi muda di Klaten untuk mengenal tanah kelahirannya," ujar Naufal.

Baca Juga: Cek Bansos 2026 Rp600 Ribu: Siapa Saja Golongan KPM yang Berhak Menerima Rapelan Bantuan di Akhir Mei Ini?

Bergerak mandiri secara swadaya dengan tim inti tiga orang dan dibantu enam relawan, mereka rajin blusukan menyusuri sudut-sudut kabupaten. Bedanya, mereka tidak membawa cangkul ekskavasi, melainkan membawa lembaran salinan arsip kolonial Belanda, koran-koran jadul sezaman, hingga jurnal ilmiah yang valid untuk dicocokkan dengan sisa-sisa arsitektur yang masih berdiri.

Sadar betul bahwa mata kuliah sejarah kerap dicap sebagai momok yang kaku dan membosankan, Klaten Lampau mengadopsi konsep yang sedang naik daun di kota-kota besar seperti Solo, Jogja, dan Semarang, yaitu walking tour (wisata jalan kaki).

"Kaum muda itu tertarik dengan kegiatan yang sifatnya fun dan jalan-jalan. Maka kami aplikasikan metode walking tour ini di Klaten," jelas Naufal.

Baca Juga: Heboh Link Video Viral TKW Taiwan 3 Vs 1 Diburu di Tiktok, Fakta Mengejutkan Terungkap, Benarkah Honor Pemeran Perempuan Capai Rp16 Juta?

Melalui wisata jalan kaki ini, peserta diajak menyusuri trotoar kota, berhenti di depan bangunan tua yang sering terabaikan, lalu mendengarkan cerita tentang apa yang terjadi di titik tersebut ratusan tahun lalu. Tak sekadar jalan-jalan, komunitas ini juga menyelipkan sesi diskusi mendalam dengan menghadirkan narasumber kompeten agar informasi yang didapat tidak menguap begitu saja.

Meskipun saat agenda perdana mereka pada Januari lalu sempat dihantam hujan lebat—sehingga hanya dihadiri tiga orang dari sepuluh pendaftar—semangat mereka tidak gembos. Strategi edukasi dialihkan ke ruang digital melalui akun Instagram yang dikemas lewat infografis estetis dan modern.

Respons netizen Klaten ternyata luar biasa. Interaksi digital mereka bahkan sempat meledak saat merilis konten mengenai sejarah panjang klub sepak bola kebanggaan daerah, PSIK Klaten. Dari sana, gelombang pengikut dan pencari informasi sejarah kian melesat.

Ke depan, Airell dan Naufal yang kini juga mengabdikan diri sebagai petugas teknis Museum Daerah Klaten ini, menargetkan output yang lebih permanen berbentuk literasi fisik seperti buku, jurnal ilmiah populer, hingga merchandise bertema historis Klaten.

Bagi mereka, misi Klaten Lampau bukan sekadar romantisme masa lalu, melainkan sebuah obat untuk mengatasi krisis identitas anak muda daerah. "Poinnya adalah agar generasi muda lebih bangga dengan kotanya sendiri. Caranya dengan mengerti sejarahnya. Kita perlu tahu jati diri kita, dan itu bisa digali lewat eksplorasi sumber sejarah di Klaten," ujar Naufal. (ren/bun)

 

Editor : Kabun Triyatno
#Walking Tour #candi #arsip #sejarah #kolonial