Kisah Sutarto-Samini, Pasutri Penjual Tempe asal Sragen Menjemput Impian Haji dengan Sisihkan Rp 20 Ribu Sehari

Ahmad Khairudin • Dipublikasikan Kamis, 28 Mei 2026 | 16:28 WIB
Sutarto dan Samini sedang menyiapkan dagangannya di rumahnya. Foto diambil sebelum berangkat ke Tanah Suci. (Ahmad Khairudin/Radar Solo)
Sutarto dan Samini sedang menyiapkan dagangannya di rumahnya. Foto diambil sebelum berangkat ke Tanah Suci. (Ahmad Khairudin/Radar Solo)

RADARSOLO.COM - Bagi Sutarto, dan Samini, uang kertas dua puluh ribu rupiah memiliki makna yang sangat sakral. Di saat lembaran uang itu bagi sebagian orang hanya setara dengan segelas kopi kekinian, bagi pasangan suami istri (pasutri) asal Desa Jetak, Kecamatan Sidoharjo, Sragen ini, uang tersebut adalah potongan jembatan menuju Makkah.

Setelah 14 tahun melakoni "puasa" dari segala keinginan duniawi dan berkomitmen penuh pada kedisiplinan menabung, pasutri penjual sayur dan tempe ini akhirnya resmi melangkah menuju Tanah Suci.

Baca Juga: Cara Airell Luthfan-Naufal Sa’ad Hidupkan Sejarah Kolonial lewat Klaten Lampau

Rona bahagia memancar kuat dari wajah keduanya saat ditemui di kediaman mereka. Tangan mereka masih cekatan memilah sayur-mayur dan menata barang dagangan—rutinitas yang telah menghidupi keluarga sekaligus impian besar mereka belasan tahun silam.

Perjalanan spiritual ini dirajut dari pembagian kerja keras yang luar biasa. Setiap subuh buta, saat kabut masih tebal menyelimuti Bumi Sukowati, Sutarto sudah harus mengayuh kendaraan menempuh jarak 15 kilometer menuju Pasar Gabugan, Kecamatan Tanon, demi menjajakan tempe. Di saat yang sama, Samini bersiap membuka warung kelontong dan sayur di teras rumah mereka.

Baca Juga: Melahirkan Penjaga Bahasa: Cara Sanggar Pasinaon Pambiwara Estafetkan Kurikulum PB XII ke Generasi Muda

Dari keuntungan yang sering kali hanya recehan itulah, sebuah komitmen besar ditegakkan.

"Setiap hari pokoknya harus disisihkan Rp20 ribu. Tidak boleh diganggu gugat, apa pun kondisinya, entah pasar sedang sepi atau kebutuhan lain sedang mendesak," kenang Samini dengan mata berbinar.

Ketekunan tanpa jeda itu akhirnya membuahkan hasil saat mereka mampu membayar setoran awal pendaftaran haji pada 2012 silam. Penantian panjang selama lebih dari satu dekade itu akhirnya berujung manis. Sutarto dan Samini bertolak ke Tanah Suci, bergabung dalam Kelompok Terbang (Kloter) 66 Embarkasi Donohudan, Solo.

Baca Juga: Menembus Batas Kegelapan Jiwa: Lewat Batik Ciprat, ODGJ Danukusuman Solo Belajar Berdikari lewat Batik Ciprat

Bagi Sutarto, keberangkatan ini adalah bukti nyata dari hukum langit bahwa Baitullah tidak hanya memanggil mereka yang kaya raya, melainkan memanggil mereka yang bersungguh-sungguh menyiapkan diri. Di sela-sela peluh berdagang, pasutri ini memang dikenal sebagai sosok yang religius dan aktif dalam pengajian desa.

"Kuncinya hanya yakin dan telaten. Kalau Allah sudah memanggil, jalannya pasti ada, meski secara logika manusia itu sulit jika hanya mengandalkan hasil jualan sayur dan tempe," imbuh Sutarto dengan nada mantap penuh rasa syukur. (din/bun)

 

Editor : Kabun Triyatno
haji menabung tanah suci penjual sayur pasutri