RADARSOLO.COM-Di sepetak bangunan sederhana di pinggir rel kereta api kawasan Jebres, Solo, Fika Pratiwi (16) kembali menemukan semangat untuk melanjutkan pendidikan.
Saat ini ia belajar di PKBM Bunga Kantil setelah sempat mengalami putus sekolah selama 2 tahun akibat berbagai persoalan yang dihadapinya.
Fika mengaku sempat melanjutkan pendidikan hingga kelas VIII di sekolah formal.
Baca Juga: Rumah Siap Kerja Antar Solo Raih Penghargaan Nasional, Dapat Tambahan Dana Rp 2 Miliar
Namun, pengalaman yang tidak menyenangkan membuatnya kehilangan kenyamanan untuk belajar.
"Temanku malah dari kelas lain. Cuma dua orang. Kalau di kelasku, satu kelas enggak mau temenan sama aku. Pas kerja kelompok sering gak dapat teman. Aku enggak nyaman, padahal kalau di sekolah kan butuh teman ngobrol," ujarnya, Minggu (7/6/2026).
Karena merasa tidak diterima oleh lingkungan sekolah, Fika akhirnya berhenti bersekolah selama sekitar 2 tahun.
Selama di rumah, ia menghabiskan waktu membantu pekerjaan rumah tangga dan bermain game.
"Di rumah saja bersih-bersih rumah sama main game. Sempat mau cari kerja, tapi pas aku bilang ke ibu, tidak dibolehkan," katanya.
Kondisi ekonomi keluarga yang sulit juga menjadi tantangan tersendiri.
Baca Juga: Antisipasi Kekeringan, BPBD Klaten Siapkan Anggaran Rp 300 Juta untuk Dropping Air Bersih
Ayah Fika telah sakit selama 7 tahun terakhir dan tidak lagi tinggal di rumah.
"Jadi hidupnya di Taman Sekartaji. Bapak sakit jantung dan bagian otak kecilnya itu sakit," tutur Fika.
Sementara itu, ibunya terpaksa meminta-minta untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga.
"Ibu jarang pulang, paling 3 hari sekali atau 5 hari sekali. Tapi ibu bilang yang penting aku sekolah dulu," ungkapnya.
Kesempatan kembali belajar datang ketika keluarganya menerima surat dari Dinas Pendidikan untuk menghadiri kegiatan di Balai Kota Solo.
Baca Juga: Tim Sparta Amankan Delapan Pemuda yang Pesta Miras di Taman Bendung Tirtonadi Solo
Dalam pertemuan tersebut, Fika mendapatkan informasi mengenai PKBM Bunga Kantil yang membuka layanan pendidikan bagi anak tidak sekolah.
"Nah waktu itu dapat surat dari dinas untuk datang ke balai kota, terus di sana dijelasin kalau ada PKBM Bunga Kantil ini akhirnya saya masuk," katanya.
Meski menghadapi keterbatasan, Fika tetap berusaha hadir mengikuti kegiatan belajar. Karena ibunya jarang berada di rumah, ia terkadang diantar oleh pamannya.
"Biasanya kalau ibu lupa nganter atau ibu nggak bisa nganter, aku diantar sama pakde. Aku sekolah dari Senin sampai Kamis jam 08.00 sampai jam 12.00," ujarnya.
Di PKBM Bunga Kantil, Fika merasakan suasana belajar yang jauh berbeda dibandingkan pengalaman sebelumnya.
Ia merasa diterima oleh teman-teman dan lebih mudah memahami pelajaran.
"Aku merasa lebih asyik di PKBM Bunga Kantil. Guru Matematika-nya juga kalau menjelaskan lebih mudah dipahami. Aku senang banget di Bunga Kantil. Di sana teman-temannya juga asyik dan mau menerima aku," katanya.
Selain pelajaran akademik, peserta didik di PKBM Bunga Kantil juga mendapatkan pelatihan keterampilan.
Setiap Kamis, Fika mengikuti pelatihan barista yang menjadi pengalaman baru baginya.
"Aku jadi bisa praktik barista," tutur dia.
Dukungan sang ibu menjadi salah satu alasan yang membuat Fika terus bertahan dan kembali bersekolah.
Baca Juga: Penghayat Kepercayaan Masih Hadapi Stigma, BRIN Lakukan Kajian di Solo
"Ibu selalu mendukung aku buat sekolah. Beliau juga sempat cariin aku sekolah, tapi tidak ada yang mau (menerima) karena sudah penuh. Ibu juga ngajarin aku untuk lebih berani kalau di-bully teman," jelasnya.
Fika bercita-cita bekerja di Jepang sehingga bertekad menyelesaikan pendidikan hingga jenjang setara SMA.
"Aku pengen ke Jepang, jadi aku harus punya ijazah supaya bisa masuk LPK dan bisa pergi kerja ke Jepang. Rencananya aku juga pengen di PKBM lagi masuk SMA nanti," ujarnya.
Fika mengaku tidak tertarik mengikuti program Sekolah Rakyat karena merasa lebih nyaman tinggal di rumahnya di tepi rel kereta api.
"Karena kalau di sana (Sekolah Rakyat) enggak bisa pulang. Aku enggak bisa tidur kalau nggak dengar suara kereta," katanya sambil tersenyum. (alf)
Editor : Tri Wahyu Cahyono