RADARSOLO.COM - Di tengah derasnya arus teknologi dan banjir informasi digital, anak-anak muda kini bisa mendapatkan hampir semua jawaban hanya lewat sentuhan layar. Namun di sebuah kafe bernuansa Jawa di kawasan Pasar Legi, Solo, ada fenomena menarik. Generasi era kecerdasan buatan (AI) itu kini kembali melirik primbon Jawa.
“Sugeng rawuh...”. Sapaan hangat itu terdengar setiap kali pintu kafe terbuka menyambut pengunjung. Aroma jamu dan rempah-rempah segera memenuhi indera penciuman, berpadu dengan alunan musik lembut dan cahaya lampu temaram yang menciptakan suasana hangat sekaligus menenangkan.
Di lantai satu, meja-meja kayu tertata rapi. Di dinding-dinding ruangan terpampang tulisan penuh falsafah Jawa. Percakapan pengunjung mengalir santai, sesekali diiringi tawa ringan. Sementara di lantai dua, ruang yang lebih terbuka dengan tanaman hijau menjuntai menghadirkan nuansa modern dan lapang, lengkap dengan area kerja yang kerap dipenuhi anak muda.
Namun bukan hanya kopi atau jamu yang dicari pengunjung. Di salah satu sudut ruangan, Tejo Widodo duduk berhadapan dengan mereka yang ingin membaca primbon.
Dengan senyum ramah dan tutur kata tenang, pria yang menjadi penanggungjawab kafe sekaligus praktisi primbon ini menjelaskan, hasil pembacaan satu per satu. Tidak ada suasana menyeramkan atau ritual yang identik dengan kesan mistis. Yang terjadi justru percakapan akrab layaknya sesi konsultasi dan refleksi diri.
Menariknya, Tejo tidak selalu membuka kitab tua atau buku-buku lawas saat melakukan pembacaan. Ia kerap memanfaatkan telepon genggam untuk mengakses data pendukung, lalu mengombinasikannya dengan pembacaan garis tangan, raut wajah, hingga informasi pribadi pengunjung.
Baca Juga: Cara Airell Luthfan-Naufal Sa’ad Hidupkan Sejarah Kolonial lewat Klaten Lampau
Bagi Tejo, primbon selama ini kerap disalahpahami sebagai ramalan mutlak atau praktik klenik. Padahal, menurutnya, primbon adalah kumpulan pengetahuan masyarakat Jawa yang diwariskan dari generasi ke generasi.
“Primbon itu ensiklopedia orang Jawa,” ujar pria yang juga lulusan Jurusan Jamu Politeknik Kesehatan (Poltekes) Solo kepada Jawa Pos Radar Solo, kemarin.
Rasa penasaran terhadap fenomena yang tengah digandrungi anak muda itu akhirnya mendorong wartawan koran ini untuk ikut mencoba sesi konsultasi. Duduk berhadapan dengan Tejo, wartawan koran ini diminta menunjukkan telapak tangan untuk dibaca garis-garisnya.
Sesekali Tejo mengamati bentuk telapak tangan, panjang jari, hingga garis-garis utama yang membentang di permukaannya. Dari pengamatan tersebut, ia mulai menjelaskan sejumlah karakter yang dinilai menonjol. Meski demikian, ia menekankan bahwa pembacaan primbon dan garis tangan bukanlah vonis ataupun kepastian masa depan.
“Ini hanya alat untuk membaca kecenderungan dan potensi. Yang menentukan tetap usaha, pilihan, dan perjalanan hidup masing-masing,” ujarnya.
Dia menjelaskan, primbon lahir dari ilmu titen, yaitu tradisi mengamati dan mencatat pola-pola kehidupan berdasarkan pengalaman para leluhur selama bertahun-tahun. Sebab itu, isi primbon jauh lebih luas daripada sekadar membahas jodoh atau hari baik.
Di dalamnya terdapat pembacaan karakter, potensi diri, kecenderungan perilaku, hingga cara seseorang menghadapi berbagai persoalan kehidupan.
Bahkan, tidak sedikit kalangan profesional yang memanfaatkan perspektif primbon untuk membaca potensi seseorang. Tejo mengaku pernah dimintai pendapat oleh bagian HRD beberapa perusahaan dengan menunjukkan CV calon karyawan guna melihat kecenderungan karakter dan potensi yang dimiliki. Dia juga kerap diundang ke kampus untuk berbagi pengalaman mengenai primbon dan budaya Jawa.
Fenomena meningkatnya minat terhadap primbon juga diamati oleh salah seorang karyawan kafe, Tri Haryati. Menurutnya, mayoritas peserta sesi primbon reading justru berasal dari kalangan muda.
“Kalau akhir pekan biasanya lebih ramai. Banyak anak muda yang datang khusus untuk konsultasi,” katanya.
Hal serupa disampaikan Fellya, karyawan kafe lainnya. Selama dua bulan bekerja di sana, ia melihat antusiasme anak muda terhadap pembacaan primbon terus meningkat. Bahkan pada akhir pekan, pengunjung sering kali harus melakukan reservasi lebih dulu agar mendapatkan jadwal.
Fenomena tersebut menunjukkan adanya kerinduan generasi muda terhadap ruang untuk memahami diri sendiri di tengah kehidupan yang serba cepat.
“Mayoritas yang datang ke sini sekarang justru anak-anak muda. Pintu masuknya hampir selalu sama. Mereka penasaran dengan watak asli, kelemahan diri, atau filosofi di balik hari kelahiran (weton) mereka,” ujar Fellya.
Salah seorang pengunjung, Ridwan Hidayat, 21, mengaku mengenal primbon justru melalui media sosial, terutama TikTok. Menurutnya, platform digital berperan besar dalam memperkenalkan kembali warisan budaya Jawa kepada generasi muda.
“Mungkin karena anak muda sekarang butuh validasi dan ingin punya acuan hidup,” ujarnya.
Meski demikian, Ridwan menegaskan bahwa primbon tidak semestinya dipercaya secara mutlak. Baginya, primbon lebih tepat dipandang sebagai sarana refleksi, bukan penentu nasib. (luthfiana/bun)
Editor : Kabun Triyatno