SOLO, RADARSOLO.COM – Di balik riuh dan padatnya kawasan perkotaan di timur Kota Surakarta, tersimpan sepotong memori kolektif yang menolak lumat oleh waktu.
Sesuai namanya, Kampung Kandang Sapi. Permukiman yang terletak di Kelurahan Tegalharjo, Kecamatan Jebres, Kota Surakarta ini kini berdiri di atas lahan datar seluas 32,5 hektare yang disesaki bangunan semi-permanen hingga beton modern, nyaris tanpa menyisakan ruang terbuka hijau untuk pertanian.
Namun, jika menarik garis waktu ke belakang, lanskap padat penduduk ini dulunya merupakan hamparan padang rumput subur yang dipenuhi oleh lenguhan ratusan ekor sapi perah. Kampung kuno yang berada di ketinggian 80–100 Mdpl ini menjadi saksi bisu bagaimana sebuah ruang kota dibentuk oleh sejarah industri pangan masa kolonial.
Jejak RW 01 dan Ekspansi Rumah Sakit
Berdasarkan dokumen resmi Buku Profil Kelurahan Tegalharjo, secara administratif wilayah Kampung Kandang Sapi terkunci di area RW 01 yang membawahi RT 01, RT 03, RT 04, dan RT 05.
Ada anomali geografis yang unik di kampung ini: RT 02 kini telah dihapus dari peta pemukiman warga. Lahan yang dulunya merupakan rumah-rumah penduduk tersebut saat ini telah sepenuhnya bertransformasi menjadi salah satu fasilitas kesehatan terbesar di Solo, yaitu Rumah Sakit Dr. Oen Kandang Sapi.
Meskipun arsip dokumentasi resmi mengenai tahun pasti berdirinya kampung ini belum ditemukan, para sejarawan lokal memperkirakan garis waktu pemukiman ini telah eksis dan dikenal luas oleh masyarakat sejak era keemasan pemerintahan Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Sri Susuhunan Pakubuwono X.
Kisah Kejayaan Imperium Susu Milik Victor J. Preseen
Naratif penamaan "Kandang Sapi" bukan sekadar mitos verbal tanpa dasar. Pada awal abad ke-20, kawasan ini dilirik oleh seorang juragan besar berkebangsaan Belanda bernama Victor J. Preseen. Ia jeli melihat potensi geografis Tegalharjo yang kala itu sangat subur sebagai ladang pasokan pakan ternak berkualitas.
Preseen kemudian membangun sebuah imperium peternakan sapi perah modern di lokasi tersebut. Kehadiran peternakan berskala besar ini mendadak mengubah ritme hidup masyarakat lokal yang direkrut menjadi buruh perah, pemotong rumput, hingga kurir distribusi.
Baca Juga: Guyon Waton Tetap Manggung Di Hari Lahir Sukoharjo, Selasa-Rabu Alun-Alun Steril PKL
Kesaksian sejarah ini dikuatkan oleh Joko Wahono, salah satu tokoh masyarakat asli yang lahir dan menghabiskan seluruh masa hidupnya di Kampung Kandang Sapi.
“Berdasarkan penuturan turun-temurun dari Mbah Buyut saya, dahulu seluruh area kampung ini memang berisi deretan kandang sapi perah milik pengusaha Belanda (Victor Preseen). Produksi susu dari sini sangat melimpah dan dikirim khusus untuk memasok kebutuhan konsumsi tentara serta elit Belanda di benteng,” ungkap Joko, Senin (13/7/2026).
Bertahan di Tengah Modernisasi Tata Ruang
Seiring berjalannya waktu, kepemilikan aset kolonial runtuh, dan sapi-sapi perah tersebut perlahan lenyap dari Tegalharjo. Lokasi bekas kandang raksasa itu perlahan tapi pasti diinvasi oleh pertumbuhan populasi, berubah wujud menjadi pemukiman padat yang kini posisinya sangat strategis karena dikelilingi berbagai fasilitas publik perkotaan.
Kendati fungsi fisiknya telah berubah total dari sektor agraria menjadi urban, nama "Kandang Sapi" tetap dipertahankan secara turun-temurun oleh warganya.
Hal ini membuktikan sebuah tesis tata kota: bahwa identitas suatu ruang tidak hanya dikunci oleh pembangunan fisik infrastrukturnya, melainkan oleh kekuatan memori kolektif masyarakatnya. Nama lama yang melintasi zaman ini menjadi jangkar budaya, memastikan bahwa generasi digital hari ini tidak akan melupakan akar sejarah agraria yang pernah menghidupi para leluhur mereka di masa lalu. (mg3/an)
Editor : Andi Aris Widiyanto