Melawan Arus Digital, Tiga Dekade Radio Gapura Klewer Merawat Napas Pasar Lewat Ribuan Meter Kabel.

Hernindya Jalu Aditya Mahardika • Dipublikasikan Senin, 20 Juli 2026 | 18:39 WIB
Penyiar Radio Gapura Klewer sedang siarang langsung. (Hernindya Jalu/Radar Solo)
Penyiar Radio Gapura Klewer sedang siarang langsung. (Hernindya Jalu/Radar Solo)

RADARSOLO.COM - Di tengah kepungan algoritma layanan musik digital dan gempuran media sosial yang memaksa ratusan stasiun radio lokal gulung tikar, sebuah anomali udara masih kokoh bertahan di pusat grosir tekstil terbesar Jawa Tengah. Radio Gapura Klewer. Tanpa frekuensi pemancar udara AM maupun FM, radio komunitas unik ini tetap setia menyapa ribuan pedagang dan pembeli langsung dari jantung Pasar Klewer, Surakarta.

Bukan lewat sinyal udara, melainkan melalui bentangan ribuan meter urat kabel jaring laba-laba yang terhubung ke ratusan speaker (pengeras suara) di setiap sudut langit-langit pasar. Selama lebih dari tiga dekade, radio ini menjadi saksi bisu pasang surut denyut ekonomi Kota Bengawan, bertahan dengan mengandalkan kedekatan emosional dan ketangkasan beradaptasi.

Baca Juga: Saat 5 Camat "Pandawa Lima" Kota Solo Keluar Keringat Dingin Main Wayang Orang demi Perang Stunting

Jejak historis Radio Gapura Klewer penuh liku. Manajer Operasional Radio Gapura Klewer Lusy Caritas TM membeberkan bahwa cikal bakal radio ini sebenarnya telah tertanam sejak era 1980-an oleh Himpunan Pedagang Pasar Klewer (HPPK). Namun, manajemen awal hancur total karena hanya dikelola amatir oleh anak-anak pedagang untuk mengisi waktu luang di sela kuliah.

Setelah sempat mati suri dan vakum akibat manajemen yang terbengkalai, radio ini menemukan momentum kebangkitannya pada tahun 1992.

"Tahun 1992 radio diaktifkan lagi secara profesional berkat sokongan dana dari Haji Mohammad Hadi, pedagang senior sekaligus penasihat HPPK. Beliau mendanai penuh pembangunan jaringan in-house audio station atau sistem radio kabel. Sejak saat itu, informasi dan musik bisa ditembak langsung ke seluruh penjuru Los Pasar," urai Lusy.

Baca Juga: Balik Dolanan Solo, Ruang Bermain yang Menghidupkan Kembali Tawa di Tengah Dunia Digital

Ujian berat kembali datang saat tragedi kebakaran hebat melanda Pasar Klewer pada 2014. Pasca-rekonstruksi fisik bangunan, lanskap tata ruang pasar terbelah menjadi Pasar Klewer Barat dan Timur. Manajemen radio pun terpecah. Radio Gapura fokus menguasai teritorial Barat, sementara kawasan Timur melahirkan Radio Timur Terang. Kendati demikian, solidaritas kru antarkedua stasiun tetap terjaga.

Hal paling impresif dari Radio Gapura Klewer adalah keteguhan mereka untuk tidak menyusu pada dana rutin anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) pemerintah. Kelangsungan operasional radio murni disokong oleh ekosistem ekonomi mikro yang melibatkan partisipasi aktif warga pasar.

Baca Juga: Jejak Peternakan Belanda: Menelusuri Asal-usul Nama Kampung Kandang Sapi di Jebres Solo

Kartu pilihan pendengar. Setiap pedagang atau pengunjung yang ingin menitip salam dan memesan lagu (request) dikenai tarif mandiri sebesar Rp1.000 per kupon.

Paket Iklan Ad-lib. Pengumuman komersial produk toko dari para juragan pasar. Pengumuman publik berbayar. Siaran info pengajian, pameran UMKM, hingga kehilangan barang.

"Untuk pengumuman agenda sosial atau kemanusiaan, kami sering kali menggratiskan tarifnya. Visi awal Radio Gapura sejak tiga puluh tahun lalu memang murni sebagai media pelayanan masyarakat, bukan entitas pemburu profit," tegas Lusy.

Sebelum teknologi ponsel pintar dan aplikasi WhatsApp mendominasi genggaman tangan, Radio Gapura Klewer merupakan instrumen tunggal paling vital bagi Pemkot Solo. Melalui corong mikrofon stasiun ini, kebijakan wali kota, info regulasi pajak, hingga dinamika internal pasar didengar secara serentak oleh ribuan pedagang tanpa perlu mengumpulkan massa.

Hingga hari ini, institusi negara seperti BKKBN, PMI, Puskesmas setempat, hingga Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) masih rutin menitipkan slot iklan layanan masyarakat (ILM) di radio kabel ini.

Menolak mati digilas zaman, Radio Gapura Klewer kini melebarkan sayap ke ekosistem internet. Para penyiar yang bertugas tidak lagi sekadar duduk menghadap pelantang suara, melainkan diwajibkan melakukan siaran langsung (live streaming) multimedial.

"Saya instruksikan seluruh penyiar untuk memanfaatkan fitur live Facebook, Instagram, hingga TikTok saat siaran berlangsung. Efeknya luar biasa. Jangkauan kami menembus batas pasar, bahkan kami sering berinteraksi dan reuni digital dengan mantan-mantan penyiar Klewer yang sekarang sudah menetap di Amerika Serikat, Belanda, hingga Australia," ungkap Lusy bangga.

Namun, inovasi digital mandiri tidak cukup untuk menjamin kepastian jangka panjang. Di penghujung obrolan, Lusy menitipkan kritik dan asa agar pemerintah tidak menutup mata terhadap eksistensi entitas radio komunitas yang mulai langka ini. Regulasi penyiaran di tingkat lokal diharapkan bisa dilonggarkan dan dipermudah, mengingat status mereka sebagai garda terdepan pengingat budaya dan penyambung informasi publik di akar rumput. (hj/bun)

 

 

Editor : Kabun Triyatno
Radia Gapura Klewer stasiun frekuensi pedagang pasar klewer