RADARSOLO.COM - Saat lonceng sekolah telah lama berbunyi dan sebagian besar anak memilih menghabiskan sore di depan layar gawai (gadget), pemandangan berbeda tersaji di Kelurahan Joyosuran, Kecamatan Pasar Kliwon, Kota Solo. Puluhan anak sekolah dasar berbondong-bondong memadati area pendopo kelurahan. Dengan mengapit buku tulis dan pensil, mereka hadir untuk belajar bersama dalam suasana yang hangat dan penuh tawa.
Tempat ini dikenal sebagai Rumah Belajar Pancasila (RBP), sebuah gerakan sosial kemanusiaan mandiri di bidang pendidikan. RBP hadir bukan sebagai sekolah formal baru ataupun lembaga bimbingan belajar (bimbel) komersial. Seluruh pendampingan diberikan secara 100 persen gratis dengan mengandalkan napas gotong royong warga lokal.
Baca Juga: Melawan Arus Digital, Tiga Dekade Radio Gapura Klewer Merawat Napas Pasar Lewat Ribuan Meter Kabel.
Cikal bakal gerakan ini berdiri sejak November 2023. Koordinator Rumah Belajar Pancasila Mentari Rosesitha Dewi Kusuma menjelaskan, RBP lahir dari keprihatinan mendalam atas tingginya ketimpangan kualitas pendidikan di Indonesia. Di beberapa daerah, tim RBP masih menjumpai anak usia SMP yang belum lancar membaca dan menulis (calistung).
Kini, RBP telah mengepakkan sayap hingga memiliki 25 titik ruang belajar di berbagai wilayah pedalaman Indonesia, seperti Kepulauan Mentawai, Samosir, Sidikalang, hingga Kalimantan Tengah, dengan menampung tak kurang dari 770 anak binaan.
"Kami adalah gerakan sosial kemanusiaan di bidang pendidikan. Kami bukan lembaga formal dan tidak berniat menggantikan fungsi sekolah, melainkan hadir sebagai mitra pendamping,” ujar Mentari, Minggu (2/8/2026).
Baca Juga: Saat 5 Camat "Pandawa Lima" Kota Solo Keluar Keringat Dingin Main Wayang Orang demi Perang Stunting
Mereka mengejar dua target besar. Menciptakan generasi cerdas melalui pendampingan akademik serta membangun karakter berlandaskan nilai-nilai Pancasila.
Di Kota Solo sendiri, kegiatan RBP dipusatkan di Pendapa Kelurahan Joyosuran. Setiap Selasa sore, sekitar 60 anak berkumpul selama 1,5 jam untuk mengerjakan tugas sekolah, melatih membaca, hingga berdiskusi tentang kedisiplinan dan rasa saling menghargai.
Prinsip utama RBP adalah pemberdayaan masyarakat lokal. RBP menolak mengirimkan pengajar dari luar daerah. Sebaliknya, mereka melatih warga setempat agar menjadi penggerak pendidikan di lingkungannya sendiri.
Baca Juga: Jejak Peternakan Belanda: Menelusuri Asal-usul Nama Kampung Kandang Sapi di Jebres Solo
RBP Solo memiliki 85 relawan di skala kota. Terdiri dari lima relawan inti mendampingi rutin di Joyosuran. Para relawan berasal dari berbagai layar belakang. Baik mahasiswa, pekerja, hingga lulusan SMA tanpa syarat gelar akademis formal. Kelurahan hanya menyediakan tempat, orang tua mengantar anak, dan warga sekitar menyokong kebutuhan logistik.
"Daripada anak-anak menghabiskan waktu sore dengan kegiatan kurang bermanfaat atau sekadar main gawai, kami wadahi di pendopo. Siapa pun yang punya niat dan ilmu bisa bergabung menjadi relawan. Pendidikan itu tanggung jawab bersama, bukan cuma tugas sekolah," tegas Mentari.
Tidak berhenti pada ruang fisik di pendapa kelurahan, RBP juga beradaptasi dengan era teknologi lewat peluncuran Sekolah Digital Pancasila. Aplikasi pembelajaran daring yang dikembangkan secara mandiri ini dihadirkan untuk menjangkau anak-anak di pelosok Nusantara yang belum memiliki ruang belajar fisik RBP. Lewat platform digital ini, materi karakter dan pendampingan kurikulum dapat diakses secara fleksibel dari mana saja. (atn/bun)
Editor : Kabun Triyatno