Melewati Tiga Dekade Krisis, Begini Cara Siti Zuhriyah Tetap Bertahan Produksi Rambak Rumahan Boyolali

Kabun Triyatno • Dipublikasikan Jumat, 7 Agustus 2026 | 15:36 WIB
Siti Zuhriyah sudah menekuni produksi rambak di Desa Kopen, Kecamatan Teras, Boyolali. (Rara Belva/Radar Solo)
Siti Zuhriyah sudah menekuni produksi rambak di Desa Kopen, Kecamatan Teras, Boyolali. (Rara Belva/Radar Solo)

RADARSOLO.COM - Tidak mudah merawat resep warisan usaha keluarga agar tetap eksis di tengah gempuran zaman. Namun, Siti Zuhriyah tetap bertahan mengembangkan produksi rambak rumahan. 

Di balik ketenangan Dusun Kapurancak, Desa Kopen, Kecamatan Teras, Kabupaten Boyolali, deru mesin kukus dan aroma gurih adonan tepung membumbung tinggi dari sebuah bengkel kriya kuliner rumahan. Di sinilah Siti Zuhriyah, pemilik sekaligus perajin utama Rambak Indri, merawat warisan resep keluarga yang telah bertahan sejak 1999. 

Selama 27 tahun melintasi dinamika zaman, ketekunan Siti dalam menjaga kualitas bahan baku dan teknik pengolahan tradisional menjadi kunci utama mengapa renyahnya kerupuk rambak tapioka buatannya tetap mengunci kepercayaan konsumen.

Baca Juga: Dobrak Bimbel Komersial, Puluhan Relawan di Solo Sulap Pendapa Kelurahan Jadi Ruang Belajar Gratis

Perjalanan puluhan tahun menekuni industri rumahan ini tak melulu mulus. Gelombang pasang surut permintaan pasar kerap menguji napas usaha ini. Di saat sepi, Siti memilih meliburkan produksi, namun saat puncak permintaan tiba, kapasitas produksinya melonjak drastis. Per hari rata-rata produksi 5 kuintal.

“Paling banyak pesanan itu pernah menembus 7 ton dalam sebulan,” ungkapnya.

Tantangan tak hanya datang dari fluktuasi permintaan, tetapi juga melonjaknya biaya bahan baku pembungkus. Kenaikan harga plastik kemasan dari Rp 28 ribu menjadi Rp 60 ribu per pak sempat memotong marjin usaha secara signifikan.

Baca Juga:  Melawan Arus Digital, Tiga Dekade Radio Gapura Klewer Merawat Napas Pasar Lewat Ribuan Meter Kabel.

“Harga plastik kemarin sempat naik dari 28 ribu sampai 60 ribu paling mahal. Pengeluaran kemasan membengkak sekali, jadi kami harus menata strategi antara menaikkan harga jual sedikit atau menyesuaikan gramasi isinya,” tambahnya jujur.

Bagi Siti, tantangan terbesar di era modern bukan lagi teknis produksi, melainkan strategi mempertahankan pelanggan lama sembari menembus ceruk pasar baru di tengah maraknya kompetitor.

Baca Juga: Balik Dolanan Solo, Ruang Bermain yang Menghidupkan Kembali Tawa di Tengah Dunia Digital

Lewat konsistensi rasa dan promosi dari mulut ke mulut, rambak produk keluarga Siti Zuhriyah sukses melompati batas wilayah Boyolali. Produk kerupuk renyah ini kini rutin dikirim ke berbagai pulau di luar Jawa, termasuk Batam, Kepulauan Riau, dan Lampung.

Siti Zuhriyah membuktikan bahwa kuliner tradisional berbasis UMKM mampu berdikari dan naik kelas jika dikelola dengan integritas kualitas tinggi. (*/bun)

 

Editor : Kabun Triyatno
resep keluarga kemasan rambak industri rumahan produksi