Acara dibuka dengan sebuah ritual hingga arak-arakan pada pukul 09.00 dan ditutup pentas Ketoprak Ngampung, selesai pukul 17.00. Ada beberapa kelompok seniman dari dalam maupun luar negeri yang tampil. Di antaranya, David Chotjewitz, Katharina Oberlik, Turah Hananto, Aldo Ahmad, Hanum Satrio, Anna Thu Schmidt, dan lain sebagainya. Animo masyarakat sangat positif. Ini bisa dilihat dari ramainya pengunjung yang menyaksikan pementasan Srawung Seni Candi.
Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Karanganyar Titis Sri Jawoto mengatakan, pemkab akan mendorong karang taruna dengan membuat pokdarwis secara formal di bawah bimbingan komunitas.
“Komunitas yang tampil kebanyakan dari luar negeri. Tapi beberapa melibatkan seniman setempat. Bahkan, ini pertama kalinya pembukaan acara memakai seniman Ngargoyoso. Ini artinya event ini mulai eksis dan bersinergi dengan masyarakat setempat,” katanya ditemui Jawa Pos Radar Solo di kompleks Candi Sukuh, Rabu (1/1).
Titis mengatakan, ke depan akan digelar kegiatan spot tourism di kompleks Candi Sukuh setiap bulan sekali. Tujuannya menambah daya tarik masyarakat ke Candi Sukuh dan menunjang perekonomian warga sekitar.
“Kalau ke Candi Sukuh ini kan hanya beli tiket masuk ,foto-foto terus pulang. Dampak ekonominya tidak terasa. Ini yang sedang kami dorong,” tuturnya.
Ada yang beda tahun ini. Suasana menjadi haru ketika sang maestro tari Suprapto Suryodarmo (Mbah Prapto) tiada. Generasi muda sebagai penerus tetap mempunyai energi spiritual yang tinggi untuk menampilkan yang terbaik.
“Di awal ini, saya merasakan betul bahwa suasana duka masih menyelimuti event ini. Tapi saya berharap duka ini akan memberikan energi mikul duwur mendem jeru Mbah Prapto. Walau tiada lagi, generasi penerusnya harus lebih baik,” ucap Titis.
Dalam event tersebut, kebanyakan pertunjukan didominasi dari mancanegara yang menjadi murid Mbah Prapto semasa hidupnya, terutama komunitas dari Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Acara menampilkan kebudayaan Indonesia serta sebagai bentuk refleksi untuk alam.
“Acara tahunan ini untuk menghidupkan sejarah candi dan memberitahukan kepada para wisatawan agar tahu kebudayaan yang berada di candi ini,” tutur State Manager Srawung Candi, Marstyanto. Srawung Candi bukanlah semata pertunjukaan seni dan ajang silaturahmi para seniman. Namun, ini sebagai wujud interaksi secara nurani. (rm1/bun)
Editor : Perdana Bayu Saputra