Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Karangayar Cucuk Heru Kusumo mengatakan, empat warga yang meninggal karena leptospirosis tersebut berasal dari Desa Tuban dan Wonorejo, Kecamatan Gondangrejo; Desa Kaling, Kecamatan Tasikmadu; serta Desa Gawanan, Kecamatan Colomadu.
”Kasus meninggal karena leptospirosis ini baru pertama kali di Karanganyar. Kami juga belum menetapkan endemisnya,” jelas Cucuk, kemarin (29/1).
Untuk mencegah korban lebih banyak, pihaknya memerintahkan seluruh petugas puskesmas memantau pasien dengan gejala leptospirosis. Yakni suhu tinggi serta mengalami gangguan saluran pernafasan. Penanganan cepat sangat menentukan penyelamatan jiwanya.
”Kalangan yang rentan terjangkit adalah petani. Karena disebarkan melalui kencing tikus yang berekosistem di sawah. Perbanyak membersihkan diri dengan sabun agar higienis. Jika muncul gejala suhu tinggi dan gangguan pernafasan, segera ke faskes (fasilitas kesehatan,Red) terdekat,” tuturnya.
Dia menambahkan, leptospirosis tidak hanya berasal dari kencing tikus di dalam rumah. Namun juga genangan air yang tidak mengalir. Seperti banjir di perkampungan, di mana airnya berpotensi menyebarkan bakteri di kencing tikus tersebut.
”Jika kawasan sungai yang rawan daerah pinggiran saja. Karena kalau air di sungai itu mengalir, jadi tidak tergenang. Sehingga potensi penyebaran bakterinya tidak tinggi,” imbuh dia.
Menurutnya, faktor penyebab terbesar leptospirosis yaitu lingkungan yang kumuh. Maka dari itu warga harus selalu menjaga dan membersihkan lingkungan. (rm1/adi/bun) Editor : Perdana Bayu Saputra