KARANGANYAR – Di tengah antisipasi pandemi Covid-19, masyarakat juga diminta mewaspadai ancaman chikungunya. Selama tiga bulan terakhir, Dinas Kesehatan (Dinkes) Karanganyar menemukan 58 kasus Chikungunya yang dibawa nyamuk Aedes Aegypti dan Aedes Albopictus tersebut.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Karanganyar Warsito mengungkapkan, penyebaran kasus chikungunya di Kabupaten Karanganyar mengalami peningkatan di awal 2021 ini. Yakni mencapai 58 kasus, tersebar di Kecamatan Tasikmadu dan Kebakkramat. ”Sejauh ini baru kami temukan di dua kecamatan itu,” terang Warsito, Senin (22/3).
Warsito menjelaskan, angka tertinggi Chikungunya ada di Tasikmadu, yakni mencapai 54 kasus. Empat kasus lainnya di Kebakkramat.
”Peningkatan kasus berada di Desa Suruh, Wangan, dan Pandean, Tasikmadu. Di mana selama sebulan teradapat 34 kasus baru. Dengan angka bebas jentik sebanyak 65 persen,” imbuh Warsito.
Pihaknya bersama sejumlah stakeholder kecamatan dan pemerintah desa sudah melakukan kegiatan pemberantasan sarang nyamuk (PSN).
”Dari hasil evaluasi yang kami dapat, memang gerakan PSN itu kurang optimal. Maka dari itu, angka bebas jentiknya itu sangat rendah hanya 65 persen,” jelasnya.
Di sisi lain, sejumlah relawan awal pekan ini menggelar kegiatan pengendalian penyakit, khususnya nyamuk. Relawan berupaya membunuh nyamuk dewasa dan jentiknya dengan melakukan fogging (pengasapan,Red) ke sejumlah lokasi.
”Kegiatan ini sudah kami lakukan beberapa hari yang lalu. Dengan harapan agar lingkungan di perkantoran bebas dari ancaman serangan nyamuk Aedes Aegypti dan Aedes Albopictus itu,” jelas Rosyid, anggota SAR Karanganyar. (rud/adi/ria)
(rs/rud/per/JPR)