Kepala Bidang Kebudayaan, Disdikbud Kabupaten Karanganyar Sawaldi mengungkapkan, pihaknya juga menemukan lingga di sekitar Candi Ceto dan patung berbentuk tubuh seorang laki – laki yang duduk dengan memegang jenggot, serta pengawalnya yang sedang memegang ikan.
”Lokasinya di situs Candi Pande – Pande, dan Candi Pawong. Pande – Pande itu nampaknya untuk lokasi pembuatan persenjataan pada zaman kerajaan. Kalau untuk pawon itu untuk memasak sejumlah pengawal kerajaan,” ucap Sawaldi.
Sedangkan lingga yoni dan seorang kakek dengan memegang jenggot serta pengawalnya diduga merupakan bangunan kolam kerajaan yang berdekatan dengan tempat pemujaan atau berdoa.
”Temuan Lingga Yoni itu ada di satu kompleks, lokasinya bershap. Untuk yang linga dengan bentuk kelamin pria itu ada di shap ketiga, kemungkinan memang dahulunya sebagai tempat untuk berdoa,” ucap Sawaldi.
Setelah dilakukan kajian, pihaknya akan melakukan pendataan untuk nantinya ditindak lanjuti. Karena beberapa benda diduga cagar budaya yang sebelumnya dilaporkan ke pemerintah, saat ini masih menunggu penetapan sebagai cagar budaya.
Sejauh ini total ada 266 benda yang ditemukan, namun belum bisa ditetapkan sebagai benda cagar budaya. Lantaran terkendala anggaran dari Pemerintah Kabupaten Karanganyar.
Bupati Karanganyar Juliyatmono mengungkapkan, wilayah lereng Gunung Lawu menjadi salah satu wilayah sejarah untuk kehidupan di Nusantara ini. Bupati berharap pemerintah desa setempat bisa ikut merawat dan mengawasi temuan tersebut.
”Sebenarnya kami sudah rencanakan di terminal Bangun Makutoromo (Karangpandan,Red) diberi papan informasi terkait keberadaan situs atau candi di Karanganyar. Karena temuan – temuan itu bisa untuk mengedukasi,” ucapnya.
Ditanya apakah akan membangun sebuah museum untuk menampung sejumlah benda cagar budaya tersebut, bupati mengaku, rencana tersebut sebenarnya ada. Namun terkendala anggaran.
”Syukur nanti desa bisang mengembangkan, lokasi temuan dari situs itu bisa menjadi salah satu destinasi wisata kebudayaan,” tandasnya. (rud/adi/dam) Editor : Perdana Bayu Saputra