Nah, mengantisipasi pendaki yang nekat muncak dengan melintasi jalur ilegal, pengelola Gunung Lawu mengetatkan pengawasan. Kebijakan tersebut sekaligus mengantisipasi melonjaknya pendaki.
“Belum ada pemberitahuan resmi dari pemerintah apakah nanti (saat malam 1 Suro) pendakian dibuka atau tidak. Ketika nanti dibuka, kami sudah siap. Begitu sebaliknya, ketika tetap ditutup, kami tetap patuh dengan regulasi," terang Nardi, salah seorang pengelola Gunung Lawu.
Diakui Nardi, sejumlah pendaki nekat menuju puncak Gunung Lawu meskipun akses telah ditutup. Mereka biasanya menerobos lewat jalur ilegal. Itulah yang diantisipasi.
Jalur resmi Gunung Lawu, imbuhnya, ada tiga, yakni pendakian melalui Candi Cetho, Cemoro Kandang, dan jalur tambak yang baru diresmikan.
“Teman-teman dari relawan nanti bisa mengawasi sejumlah jalur ilegal yang mungkin dilalui pendaki, kecuali tiga jalur utama tadi (jalur resmi telah ditutup),” ucapnya.
Ditambahkan Nardi, tidak sedikit yang bertanya apakah jalur resmi pendakian Lawu dibuka atau tidak saat malam 1 Suro. Dia tidak bisa menjawab secara gamblang karena belum mendapatkan kepastian dari pemerintah.
"Biasanya mereka (pendaki) naiknya itu pas malam satu Suro-nya. Bermalam di puncak Hargo Dalem. Besoknya baru turun," jelasnya. (rud/wa) Editor : Syahaamah Fikria