Pemugaran oleh BPCB Jateng ini sudah dimulai sepekan lalu. Tim memperbaiki sejumlah susunan dinding pada pendapa di kompleks Candi Ceto. Meski dipugar, kegiatan tersebut tidak mengganggu warga yang melakukan peribadatan di candi bercorak Hindu dan dibangun pada masa akhir era Majapahit itu.
Koordinator tim pemugaran Candi Ceto dari BPCB Jateng Gatut Eko Nurcahyo mengatakan, proses pemugaran lapisan talut dan pagar Candi Ceto di lapisan 11 – 12 tersebut dilakukan sejak Juli lalu.
“Kondisinya memang sudah rusak, karena dislokasi atau letaknya itu sudah tidak sesuai. Makanya kami lakukan pemugaran. Anggaranya dari Dipa BCPB yang bersumber dari APBN (anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN). Jadi ada kemiringan atau kerenggangan beberapa sudut dan harus diperbaiki,” ucap Gatut.
Gatut khawatir, kalau hal tersebut tidak segera diperbaiki, maka nanti akan membahayakan pengunjung atau wisatawan. Mengingat teras 11 dan 12 merupakan lokasi yang sering dijadikan wisatawan untuk beristirahat sebelum menuju ke candi utama Ceto.
“Konsentrasi masyarakat itu ada di teras 11 – 12. Kami khawatir kalau tidak segera dipugar, maka malah semakin rusak,” ucapnya.
Tidak hanya pagar dan pondasi Candi Ceto, Gatut mengungkapkan, BPCB merencanakan juga akan melakukan pemugaran terhadap bangunan utama Candi Ceto lantaran dari hasil kajian, beberapa tatanan batu candi sudah mulai merenggang.
“Setahun yang lalu kerusakan itu sudah terdeteksi. Kemungkinan kerusakan struktur candi itu karena kondisi tanah. Kalau di Prambanan di wilayah Klaten dan Jogja atau Candi Borobudur di Magelang itukan kemarin karena ada gempa. Tapi kalau di Candi Ceto ini kemungkinan karena kontur tanah yang berkurang atau bergerak, sehingga mengakibatkan tatanan batu candi itu bergeser, atau renggang,” imbuhnya. (rud/bun/dam) Editor : Damianus Bram