Kepala Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan (Dispertan PP) Siti Maysaroh mengungkapkan, drone sprayer ini merupakan salah satu jawaban dari keluhan petani lantaran sebelumnya memakai alat penyemprot pupuk manual yang gendong. Tak hanya itu, pengenalan drone sprayer juga untuk menarik genarasi muda agar tertarik untuk bertani. Mengingat regenerasi petani sangat minim.
”Ini kami harapkan agar generasi kita bisa terus menggelorakan pertanian di Karanganyar. Kemudian juga memudahkan petani dalam mengelola tanaman pertaniannya, karena sebelumnya banyak gapoktan mengeluh terkait dengan alat semprot yang dirasa membuat mereka kelelahan,” terangnya.
Lebih jauh Nur mengungkapkan, drone sprayer nantinya juga akan digunakan mengingat rencana penggunaan pupuk grandel dikonversikan ke pupuk cair. Dimana jatah dari Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) nanti sebagian akan diberikan dalam bentuk pupuk cair.
”Nanti di tahun 2022, RDKK-nya itu sebagian granule dan sebagian cair. Tapi kalau teknologinya tidak ada bantuan, yang disubsidi tetap pupuknya. Jadi nanti 1 kuintal pupuk granule itu nanti sama dengan satu liter pupuk cair ini, biar nanti petani itu mudah untuk mengimplementasikan ke lahan pertanian mereka,” jelas Nur.
Vice President penjualan wilayah 3B Pupuk Indonesia, Rizki Candra Sakti mengungkapkan, pengenalan drone sprayer dengan menggunakan pupuk cair Phonska OCA dilakukan di 14 kabupaten di tiga provinsi. Yakni Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat.
Penyemprotan tersebut merupakan upaya dari Pupuk Indonesia Perusahaan Agrosolusi untuk indonesia bersama anggota holdingnya, untuk memperkuat sektor pertanian, ditengah pandemi. (rud/adi/dam) Editor : Damianus Bram