Selain tempat ibadah, Majdi Jami’ Al Yahya juga termasuk objek wisata religi. Dulunya, masjid ini hanya berupa surau kecil. Terbuat dari kayu jati.
“Banguan masjid ini masih asli. Hanya bagian serambi saja yang direnovasi karena kayunya lapuk dimakan usia,” terang takmir Masjid Jami’ Al Yahya H. Nurdiatma, 66, kemarin (14/4).
Selain bedug dan kentongan, di serambi masjid terdapat meja besar yang terbuat dari kayu jati. Semuanya peninggalan sang pendiri, yakni Kyai Al Yahya.
Masuk ke bangunan utama, terdapat pilar-pilar yang menjulang tinggi. Bersebelahan dengan tangga kayu, akses menuju ruangan kecil tepat di sisi atas masjid. Tempat muadzin mengumandangkan adzan.
“Pilar-pilarnya terbuat dari kayu jati asli, bukan sambungan. Menurut cerita, dulu pilar itu dibuat dari kayu yang terdampar di Kali Cemoro,” imbuh Nurdiatma.
Masjid Jami’ Al Yahya juga memiliki mimbar, hadiah dari Keraton Kasunanan Surakarta. Bentuknya diduplikat dari Masjid Kalioso Jogo Paten.
“Masjid ini yang di sisi selatan, kalau Masjid Kalioso Jogo Paten di sisi utara. Jadi mimbarnya diduplikat dari sana,” ujarnya.
Keunikan lain dari Masjid Jami’ Al Yahya, yakni ukiran yang menghias kayu-kayu dan langit-langit. Berupa ornamen kaligrafi doa dan salawat. Di sisi barat bangunan utama, terdapat makam Kyai Al Yahya.
“Sering dikunjungi peziarah untuk berdoa. Di sini juga sering diadakan sadranan yang dimeriahkan dengan pengajian akbar. Biasanya mendatangkan kyai dan habib dari Semarang. Cak Nun juga pernah datang mengisi pengajian akbar,” terang Nurdiatma.
Nurdiatma juga mengaku, presiden keempat RI Almarhum Gus Dur juga pernah berziarah ke Masjid Jami’ Al Yahya. “Pengunjung tak kenal waktu. Tiap pagi, siang, sore, dan malam, ada saja yang datang berziarah,” bebernya. (mg7/fer) Editor : Damianus Bram