Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Monumen Tanah Kritis Jumantono, Tinggalan Era Soeharto Kini Minim Perawatan 

Syahaamah Fikria • Jumat, 6 Mei 2022 | 19:00 WIB
PRIHATIN: Pengunjung melihat tanah gersang yang diawetkan dalam bangun joglo di Monumen Tanah Kritis, Desa Sukosari, Kecamatan Jumantono, Karanganyar. (RUDI HARTONO/RADAR SOLO)
PRIHATIN: Pengunjung melihat tanah gersang yang diawetkan dalam bangun joglo di Monumen Tanah Kritis, Desa Sukosari, Kecamatan Jumantono, Karanganyar. (RUDI HARTONO/RADAR SOLO)
Di Desa Sukosari, Kecamatan Jumantono, berdiri Monumen Tanah Kritis. Sebagai pengingat bagi masyarakat bahwa dulunya Jumantono merupakan kawasan gersang. Seiring dengan adanya konservasi, tanah di Jumantono berubah menjadi subur.

MONUMEN Tanah Kritis berdiri di atas lahan seluas 9.125 meter persegi. Berupa gundukan tanah gersang yang telah diawetkan. Tanah tersebut berada di dalam bangunan utama berbentuk joglo.

Kepala Persemaian Permanen Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Solo Marzuki mengaku, tanah tersebut merupakan bukti tersisa dari sejarah Jumantono. Di mana kawasan tersebut dulunya gersang.

“Berkat gerakan konservasi tanah dan air, Jumantono perlahan menjadi wilayah yang subur. Bisa ditanami palawija dan buah-buahan. Bahkan saat ini mata pencaharian terbesar di sini adalah petani,” ungkapnya.

Marzuki menambahkan, Monumen Tanah Kritis dibangun pemerintah pusat di masa Orde Baru, di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto. Monumen ini diresmikan oleh Menteri Kehutanan Sujarwo di era 80-an, sebagai sarana edukasi dalam rangka menjaga lingkungan dari bahaya kekeringan.

Sayang, kondisi Monumen Tanah Kritis memprihatinkan. Banyak ditumbuhi ilalang dan semak berlukar. Ironisnya lagi, malah banyak muda-mudi yang berkunjung ke tempat ini sekadar berpacaran.

“Banyak pengunjung yang menyayangkan kondisi monumen sekarang. Monumen yang seharusnya objek wisata edukasi, justru tidak terawat,” imbuh Marzuki.

Mengingat Monumen Tanah Kritis merupakan aset nasional dan berada di wilayah Kabupaten Karanganyar, pemerintah desa dan kecamatan setempat tergugah untuk menjaga kelestariannya.

“Sudah lama ada pembahasan dengan pemerintah desa. Tapi karena minimnya anggaran dari kami, sementara rencana pengembangan ditunda dulu. Apalagi dalam dua tahun terakhir Indonesia dilanda pandemi Covid-19,” ujarnya.

Selain ikon tanah gersang, monumen ini juga dilengkapi sejumlah fasilitas penunjang. Di antaranya arboretum, selter, saluran air dan bangunan terjunan, kantor pengelola, musala, hingga toilet. (rud/fer/ria) Editor : Syahaamah Fikria
#tanah gersang #jumantono #Monumen Tanah Kritis #pelestarian alam