Sekretaris utama Perpustakaan Nasional Ofy Sofiana mengatakan, workshop penulisan aksara Jawa ini pertama diselenggarakan oleh Perpustakaan Nasional. Sudah direncanakan pada 2020. Akan tetapi tertunda karena pandemi Covid-19.
”Ini merupakan implementasi dari tagline Perpustakaan Nasional 2022 yaitu transformasi digital untuk menciptakan ekosistem digital nasional. Perkembangan ekosistem digital dapat memberikan andil dalam revolusi industri 4.0, termasuk perkembangan aksara daerah dalam bentuk digital,” kata Ofy.
Ofy menambahkan, perhatian dan minat terhadap perkembangan aksara daerah akhir-akhir ini mengalami peningkatan. Beberapa jenis font dari berbagai aksara mulai muncul di dunia maya, tidak terkecuali aksara Jawa.
Beranjak dari kondisi tersebut, Perpustakaan Nasional perlu mengambil peran dalam mengedukasi masyarakat dan mempromosikan keberadaan aksara daerah sesuai perkembangan teknologi.
Diharapkan, alumni workshop tersebut dapat menularkan pengetahuan yang didapat kepada lingkungan kerja dan para peserta didiknya.
Panita pelaksanaan Workshop Aksara Jawa Luthfiati Makarim mengungkapkan, kegiatan ini digelar selama 15 hari, diikuti 30. Pembelajarannya tentang tata tulis dan tata bahasa manuskrip Jawa periode abad 17, 18, dan 19.
”Pembelajaran mulai dari tata tulis dan tata bahasa tiga jenis teks Jawa Kuna, yakni parwa, kakawin, dan prasasti. Dan kemudian pembelajaran pada paruh akhir minggu kedua berisi tentang digitalisasi aksara Jawa yang meliputi sistem digitalisasi aksara, sistem pengetikan aksara, dan regulasi digitalisasi,” tandasnya. (rud/adi/dam) Editor : Damianus Bram