Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Tempat Pembuatan Alat Fitnes di Desa Sedayu yang Sudah Berstandar Internasional

Damianus Bram • Minggu, 11 September 2022 | 22:00 WIB
MANTAN ATLET: Muladi pembuat alat-alat fitnes asal Desa Sedayu, Kecamatan Jumantono, Kabupaten Karanganyar. (RUDY HARTONO/RADAR SOLO)
MANTAN ATLET: Muladi pembuat alat-alat fitnes asal Desa Sedayu, Kecamatan Jumantono, Kabupaten Karanganyar. (RUDY HARTONO/RADAR SOLO)
KARANGANYAR - Fitness bisa jadi solusi, bagi masyarakat yang gemar berolahraga di tempat yang ekslusif. Beberapa alat di lokasi fitnesan bisa membakar kalori, ataupun membentuk otot tubuh. Bisnis pembuatan alat-alat fitnes juga mulai bermunculan di beberapa kota. Tapi kualitas alat tetap sangat penting terjaga dengan baik.

Tentu harus berhati-hati dalam menggunakan sejumlah alat untuk membentuk otot tubuh. Apapun itu bentuknya. Keamanan dan kekuatan dari alat fitnes harus terjaga kualitasnya, untuk meminimalisir keamanan agar tak membahayakan keamanan penggunanya.

Di Desa Sedayu, Kecamatan Jumantono, Kabupaten Karanganyar terdapat tempat pembuatan alat fitnes. Kualitasnya telah diakui dunia internasional. Produknya banyak dijual di Singapura.

Bengkel pembuatan alat fitnes tersebut, milik Muladi, 42, yang merupakan warga Sedayu. Alat fitnes buatannya terus berkembang pesat. Beberapa reseller atau supplier alat fitnes mulai ramai-ramai memesan.

Bisnis yang digelutinya saat ini, ternyata tumbuh karena hobi yang dulunya dia gandrungi. Sebelumnya Muladi adalah atlet binaraga, dan berlatih di lokasi fitnes jadi makanan sehari-hari buatnya.

Sejak 2004 dia mulai terpikir untuk memproduksi alat fitnes sendiri. Hingga akhirnya dia pun memulainya. Seiring berjalannya waktu alat fitnes buatannya mulai dikenal banyak pihak, dan pemesannya meluas hingga di beberapa kota atau kabupaten di Jawa.

Ide itu muncul awalnya sejumlah alat fitnes yang sebagian besar dari luar negeri, ternyata tidak sesuai dengan spek. Dia mengakui malah justru bisa mempengaruhi kondisi otot tubuh.

"Awalnya memang karena saya sebagai atlet binaraga, kemudian daripada datang ke tempat fitnesan terus, akhirnya saya mencoba membuat alat sendiri. Tapi tentu disesuaikan dengan kemampuan kita sebagai orang Indonesia. Lama kelamaan beberapa teman ikut pesan, kemudian beberapa supplier ikut memesan juga. Pesanan hampir semua untuk beberapa tempat fitnes," terang Muladi.

Dalam membuat sejumlah alat-alat fitnes, Muladi dibantu kurang lebih 15 orang pekerja. Banyaknya pekerja juga untuk memenuhi pesanannya yang saat ini masih berjalan baik progresnya. Bahkan pemesanan sampai ke beberapa negara di luar negeri.

"Desainnya itu kadang sama dengan alat-alat fitnes import, akan tetapi kenyamanan dan desainnya mungkin berbeda. Kami menyesuaikan dengan kemampuan dari masyarakat di Indonesia. Karena sebelum dikirim, alat-alat itu saya coba dulu. Apakah sudah sesuai atau belum. Kalau untuk alat impor, kadang kita tidak bisa mencobanya atau penggunaannya ternyata susah," paparnya.

Tak hanya bentuk kegunaannya yang sudah diakui nasional dan internasional, beberapa bahan yang digunakan dalam pembuatan alat fitnes milik Muladi juga sudah diakui. Bahkan untuk cat sebagai pewarna alatpun, dia berani bersaing dengan produk impor.

"Semua proses pembuatan sudah standar dari pabrik. Untuk las juga sudah tidak usah dilakukan proses gerinda. Cat yang kami gunakan tidak asal-asalan. Catnya itu jenis cat oven. Jadi kualitasnya memang benar-benar standar seperti alat fitnes import," pungkasnya. (rud/nik/dam) Editor : Damianus Bram
#Alat Fitnes #Pembuatan Alat Fitnes