Kasi Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Karanganyar Hartoko mengungkapkan, usai longsor di sejumlah kecamatan beberapa waktu lalu, pihaknya mulai mengecek kondisi terkini daeah rawan longsor. Hasilnya didapati retakan tanah di Dusun/Desa Tengklik. Kawasan tersebut sebelumnya pernah terjadi tanah gerak hingga menyebabkan sejumlah rumah amblas.
”Yang jelas ada pergerakan tanah di sana (Tengklik, Red). Kemudian selain mengancam akses jalan warga, juga mengancam salah satu bangunan masjid dan tiga rumah warga,” terang Hartoko kepada Jawa Pos Radar Solo, Selasa (28/2/2023).
Hartoko menambahkan, terjadi pergeseran tanah di kampung yang berlokasi di atas pintu 2 objek wisata Grojogan Sewu tersebut. Ditandai dengan lantai masjid dan tembok rumah warga yang retak.
”Kami sudah koordinasi dengan badan riset untuk melakukan penelitian lebih lanjut terhadap lokasi tersebut. Nanti kami akan meminta langkah seperti apa untuk pencegahan agar tidak membahayakan masyarakat,” ungkapnya.
Ketua Forum Pengurangan Risiko Bencana Kabupaten Karanganyar Aji Pratama Heru menjelaskan, mitigasi bencana alam perlu kerjasama semua pihak. Berkaca dari catatan tahun lalu, Kecamatan Tawangmangu, Ngargoyoso, Jatiyoso dan Jenawi merupakan titik bencana longsor dengan frekuensi paling tinggi.
”Dari beberapa kejadian tanah longsor di Karanganyar, memang perlu adanya evaluasi. Khususnya terkait koordinasi di masing-masing satuan tugas. Jangan sampai malah bencana tanah longsor itu menjadi wisata bencana,” tegas Heru. (rud/adi/dam) Editor : Damianus Bram