Aksi damai di depan kantor bupati berjalan lancar. Tanpa ada friksi maupun ketegangan. Selama aksi, perwakilan 50 vendor tersebut membentangkan sejumlah spanduk. Intinya menuntut hak mereka yang belum dibayarkan PT MAM Energindo.
Setelah itu, massa melakukan longmarch dengan titik kumpul di Alun-Alun Karanganyar. Massa kemudian bergerak menuju kantor DPRD Karanganyar.
Salah seorang perwakilan vendor proyek Masjid Agung Madaniyah Subandri mengaku, total yang belum dibayarkan PT MAM Energindo kepada mereka Rp 5,6 miliar. “Kami semua belum ada yang dibayar. Total ada 50 vendor,” ujarnya saat ditemui Jawa Pos Radar Solo di sela aksi damai kemarin.
Bandri menambahkan, PT MAM Energindo sempat berjanji akan melunasi hak yang seharusnya diterima ke-50 vendor tersebut. Tepat setelah serah terima pengerjaan atau profesional hand over (PHO) dari PT MAM Energindo ke Pemkab Karanganyar. Kenyataannya, hingga detik ini hak mereka tak kunjung dibayarkan.
“Terakhir itu Desember 2022, PT MAM Energindo mengaku masih ada sisa uang di Pemkab Karanganyar Rp 11 miliar. Harusnya uang tersebut bisa untuk mengganti kekurangan teman-teman vendor ini. Tapi kenyataannya, malah dicairkan Pemkab ke PT MAM tanpa sepengetahuan kami,” keluh Subandri.
Perwakilan vendor lainnya Adit menambahkan, sebelumnya sempat ada audiensi bersama PT MAM Energindao dan sejumlah pejabat di lingkungan Pemkab Karanganyar. Adit dkk juga sudah melakukan langkah persuasif, sesuai petunjuk pemkab.
“Hanya ingin mendapatkan hak kami. Karena sejak April 2022 lalu, kami hanya diberi janji manis. Katanya uang di pemkab masih Rp 11 miliar, dan akan dibayarkan ke kami. Namun hingga akhir Desember 2022, nyatanya tidak ada kabar sama sekali,” bebernya. (rud/fer/dam) Editor : Damianus Bram