Kawasan kebun teh Kemuning berada di ketinggian 800-1.540 meter di atas permukaan laut (mdpl), sehingga bersuhu sejuk. Luasnya tercatat 437,82 hektare, sedangkan luas perkebunan rakyat berupa kopi yang sekarang berubah menjadi kebun teh di Ngargoyoso sekitar 22,5 hektare.
Kini, kawasan kebun teh Kemuning berkembang pesat. Mulai dari menjamurnya wisata kuliner, hingga desa wisata yang menawarkan berbagai keunggulan. Ada tubing hingga pemandangan kebun teh yang eksotis.
Dengan kondisi itulah, kemudian beberapa investor mulai masuk. Melalui kerja sama yang diduga dilakukan PT Rumpun Sari Kemuning (RSK). Tak hanya investor swasta, pemerintah setempat dan beberapa pejabat diduga juga telah melakukan kerja sama.
Dampaknya, sejumlah bidang di kebun teh Kemuning tidak hijau lagi. Dilakukan pengerukan dengan dalih penataan lahan. Fenomena tersebut memicu aksi protes masyarakat yang merasa terancam dengan kelestarian kebun teh Kemuning.
Bukan hanya itu, muncul dugaan praktik jual beli lahan yang dilakukan oleh oknum yang mengatasnamakan PT Rumpun Sari Kemuning, yang sebelumnya diberikan kepercayaan melakukan pengelolaan lahan.
Galang Hermawan, tokoh pemuda Desa Kemuning menuturkan, aksi protes warga ditunjukkan dengan memasang spanduk bertuliskan Selamatkan Kebun Teh dan Save Kemuning.
Itu karena beberapa lokasi antara lain di Kemuning, Desa Segorogunung, dan lahan teh di wilayah Kecamatan Jenawi, diduga telah dirusak oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.
“Selama ini kami tidak pernah mendapatkan solusi dan kejelasan apapun. Kenapa beberapa bidang lahan teh di Ngargoyoso di-babati. Dilakukan proses pengerukan. Padahal di salah satu lokasi merupakan sumber mata air yang digunakan warga untuk kebutuhan air bersih. Masyarakat terus terang resah dengan pengerukan lahan, karena akan membahayakan kami, jika terjadi bencana alam,” papar Galang.
Ditambahkan Galang, praktik eksploitasi yang diduga ilegal tersebut mayoritas dilakukan di kebun teh di Desa Segorogunung, hingga masuk ke wilayah Kecamatan Jenawi. “Untuk yang di Desa Kemuning tidak begitu banyak. Lahan-lahan itu menjadi resapan air. Tapi sekarang sudah dirusak oleh alat berat,” ungkapnya. (rud/wa)
Editor : Tri Wahyu Cahyono