RADARKARANGANYAR.COM - Di kompleks makam Astonoloyo Eyang Umbul, Dusun Karang Kidul, Desa Pulosari, Kecamatan Kebakkramat, Kabupaten Karanganyar terdapat batu yang dikeramatkan. Batu tersebut dipercaya memiliki daya mistis yang sangat kuat.
Ya, Watu Manten. Pengamatan Jawa Pos Radar Solo, Watu Manten terdiri susunan tiga buah batu. Satu berukuran lebih besar dibandingkan dua lainnya.
Di batu yang paling besar tersebut terdapat dua lubang di sisi atas kiri dan kanan, sedangkan dua batu berukuran lebih kejil berjajar di depan batu besar.
Di depan Watu Manten terdapat patung Loro Blonyo, yakni pengantin pria dan perempuan. Lokasi setempat disebut-sebut sebagai tempat persembahyangan Imam Rajid, tokoh besar di zaman dahulu.
"Warga menyebutnya Watu Manten. Sudah dikenal turun temurun. Jadi ada dua batu yang disatukan," terang Taryo, juru kunci Makam Astonoloyo.
Hingga saat ini, bagi warga Desa Pulosari yang hendak menggelar hajatan pernikahan maupun ngunduh mantu, pasangan pengantin terlebih dahulu memutari Watu Manten dengan cara berjalan kaki.
“Entah mereka mendapatkan suami atau istri dari manapun, dan prosesi acara dimanapun, mereka yang melaksanakan prosesi pernikahan di Desa Pulosari wajib untuk memutari Watu Manten. Kalau dilanggar, dipercaya berdampak kurang baik bagi keluarga maupun kehidupan setelah menikah,” urainya.
Apakah pernah ada yang melanggar tradisi tersebut? Taryo mengatakan, beberapa kali. Entah kebetulan atau faktor lain, keluarga pengantin atau malah pengantinnya langsung, ada yang sakit atau terkena sengkala.
"Kalau tidak kulonuwun (permisi) dengan memutari Watu Manten, biasanya dalam prosesi pernikahan ada saja kejadian yang aneh. Pasangan pengantin mendadak sakit, sound system tidak mau menyala, ada juga sendok tiba-tiba hilang dan baru ditemukan di rumpun bambu,” bebernya. (rud/wa)
Editor : Damianus Bram