Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Kisah Heroik di Kabupaten Karanganyar: Adu Sakti, Syekh Maulana Maghribi dan Begawan Selapawening “Berebut” Bukit Jabal Kanil Kawasan Tawangmangu

Tri wahyu Cahyono • Selasa, 30 April 2024 | 13:30 WIB
Kawasan bukit Jabal Kanil di Desa Bandardawung, Kecamatan Tawangmangu, Karanganyar.
Kawasan bukit Jabal Kanil di Desa Bandardawung, Kecamatan Tawangmangu, Karanganyar.

RADARSOLO.COM- Bukan hanya perjuangan melawan penjajah kolonial Belanda, di Kabupaten Karanyar juga ada kisah tentang upaya menyebarkan Islam.

Adalah Begawan Selapawening, salah seorang putra Raja Majapahit Prabu Brawijaya terakhir.

Dilansir dari tesis Agung Murdiyanto, mahasiswa pascasarjana Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo 2009, nama Begawan Selapawening diperkirakan bukan nama sebenarnya.

Melainkan nama samaran untuk menyembunyikan identitas sebagai putra raja Majapahit.

Kenapa Begawan Selapawening pergi dari Kerajaan Majapahit menuju pesisir selatan atau Yogyakarta?

Hal tersebut ada hubungannya dengan mulai meluasnya pengaruh ajaran Islam di wilayah Jawa. Termasuk ke Kerajaan Majapahit.

Mereka yang enggan masuk Islam memilih tinggal di daerah terpencil.

Saat menyusuri pantai selatan Pulau Jawa, Begawan Selapawening melihat dua bukit yang dirasa cocok untuk bermukim.

Bukit itu tak lain adalah Jabal Kanil. Lokasinya di Desa Bandardawung, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar.

Di lokasi tersebut, Begawan Selapawening bersama para pengikutnya mendirikan sebuah padepokan.

Hingga suatu hari datang Syekh Maulana Maghiribi ke padepokan Begawan Selapawening di Jabal Kanil.

Syekh Maulana Maghribi menyampaikan niatnya untuk menyebarkan ajaran Islam di sana.

Syekh Maulana Maghribi paham bahwa Begawan Selapawening punya pengaruh besar kepada masyarakat di sekitarnya.

Niat Syekh Maulana Maghribi tidak begitu saja disetujui Begawan Selapawening.

Begawan Selapawening malah menantang Syekh Maulana Maghribi adu kesaktian.

Yang pertama adalah adu kesaktian dhelikan atau bersembunyi.

Begawan Selapawening dipersilahkan bersembunyi lebih dahulu dengan mengerahkan kesaktiannya.

Tak satupun pasang mata yang bisa melihat keberadaannya. Tetapi atas izin Allah SWT, Syekh Maulana Maghribi berhasil menemukan Begawan Selapawening di tempat persembunyiannya.

Kini giliran Syekh Maulana Maghribi bersembunyi. Begawan Selapawening gagal menemukannya meskipun telah mengerahkan kesaktiannya.

Tidak puas, digelar adu kesaktian berikutnya yakni pertandingan memancing.

Lokasinya di muara Sungai Opak yakni Laut Selatan.

Begawan Selapawening mendapat kesempatan pertama memancing.

Begitu kail dilemparkan ke laut dan langsung ditarik, Begawan Selapawening mendapatkan ikan sangat besar.

Mereka yang menyaksikan hal itu keheranan dan menyatakan kekaguman atas kesaktian Begawan Selapawening.

Giliran Syekh Maulana Maghribi memancing. Masyarakat yang menyaksikan sudah ragu Syekh Maulana Maghribi bisa mendapatkan ikan sebesar hasil pancingan Begawan Selapawening.

Tapi, begitu Syekh Maulana Maghribi menarik kail, ikan besar tergeletak di sampingnya.

Kondisi ikan itu membuat orang-orang yang hadir geleng-geleng kepala.

Ikan hasil pancingan Syekh Maulana Maghiribi telah matang. Alias dapat langsung disantap.

Aroma harum menusuk hidung setiap orang sehingga tak sabar untuk menikmati ikan tersebut.

Dua kali kalah adu sakti, Begawan Selapawening menyerahkan padepokan yang didirikannya di Jabal Kanil kepada Syekh Maulana Mahgribi.

Begawan Selapawening pindah ke tempat lain, yang posisi lebih rendah dibandingkan padepokan di bukit Jabal Kanil.

Oleh Syekh Maulana Maghribi, bekas padepokan Begawan Selapawening dijadikan pondok pesantren.

Sedangkan joran alias walesan yang digunakan untuk adu kesaktian memancing ditancapkan di kebun belakang pondok pesantren.

Joran dari bilah bambu tersebut tumbuh menjadi rumpun bambu yang rimbun dan masih ada sampai sekarang. Dinamakan bambu Sentana atau bambu Pamancingan. (wa)

 

Editor : Tri Wahyu Cahyono
#tawangmangu #kisah heroik #karanganyar #bukit jabal khanil #Syekh Maulana Maghribi #desa bandardawung