Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Kisah Heroik di Kabupaten Karanganyar: Masa Kecil Pangeran Sambernyawa dan Adik-adiknya yang Biasa Tidur di Kandang Kuda

Tri wahyu Cahyono • Selasa, 30 April 2024 | 23:57 WIB
Pura Mangkunegaran yang didirikan Pangeran Sambernyawa atau Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegoro I  Artikel ini telah diterbitkan di halaman SINDOnews.com pada Senin, 12 Juni 2023
Pura Mangkunegaran yang didirikan Pangeran Sambernyawa atau Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegoro I Artikel ini telah diterbitkan di halaman SINDOnews.com pada Senin, 12 Juni 2023

RADARSOLO.COM – Perjuangan Raden Mas Said alias Pangeran Sambernya dalam melawan penjajahan Belanda, sudah sangat akrab di telinga warga Kabupaten Karanganyar.

Dari semangat cinta tanah air Pangeran Sambernyawa itu pula, Kabupaten Karanganyar didirikan.

Namun siapa sangka, semasa kecil, meskipun merupakan putra seorang raja, Pangeran Sambernyawa lebih banyak hidup susah.

Dikutip dari tesis Agung Murdiyanto, mahasiswa pascasarjana Universitas Sebelas Maret, Pangeran Sambernyawa dilahirkan di Keraton Kartasura pada 7 April 1725.

Ayah Pangeran Sambernyawa adalah Kanjeng Pangeran Arya Mangkunagoro yang dibuang oleh Belanda ke Srilanka (Ceylon).

Sedangkan ibunya bernama R.A. Wulan, putri dari Pangeran Balitar.

De Jonge, penulis dari Belanda dalam catatannya menyebutkan, hukuman pembuangan terhadap Kanjeng Pangeran Arya Mangkunagoro disebabkan oleh fitnah Kanjeng Ratu dan Patih Danurejo.

Dalam fitnahnya, Kanjeng Pangeran Arya Mangkunagoro dituding telah berzina dengan seorang selir Pakubuwono II, yakni Mas Ayu Larasati.

Akibatnya, Pangeran Arya Mangkunagoro dijatuhi hukuman mati. Namun kemudian diubah menjadi hukuman buang.

Peristiwa itu terjadi ketika Pangeran Sambernyawa berumur dua tahun.

Belum selesai sang ayah dibuang, Pangeran Sambernyawa dibuat sedih karena sang ibu meninggal dunia ketika melahirkan seorang putra.

Keselamatan Pangeran Sambernyawa kecil juga terancam.

Patih Danurejo yang pro Belanda, berusaha melenyapkan Pangeran Sambernyawa.

Alasannya, Patih Danurejo khawatir, ketika Pangeran Sambernyawa dewasa akan mengetahui rahasia pembuangan ayahnya dan bisa membalas dendam.

Untungnya, masih ada petinggi Keraton Kartasura yang melindungi Pangeran Sambernyawa dari rencana jahat Patih Danurejo.

Nah, sejak ditinggalkan oleh ayah dan ibunya, Pangeran Sambernyawa bersama dua adiknya, yakni R.M. Ambia dan R.M. Sabar, hidup dalam kesusahan.

Meskipun anak seorang raja, Pangeran Sambernyawa terbuang dari kehidupan keluarga Keraton Kartasura.

Tapi dengan kondisi tersebut, Pangeran Sambernyawa lebih dekat dengan rakyat kecil.

Bermain dengan abdi dalem keraton Kartasura yang sebaya.

Namun, para abdi dalem itu tetap hormat. Mereka paham bahwa Pangeran Sambernyawa adalah anak seorang raja.

Di masa kecilnya, Pangeran Sambernyawa bersama adik-adiknya, dan teman sebaya biasa tidur di kandang kuda.

Salah seorang teman akrab Pangeran Sambernyawa adalah Sutawijaya.

Kelak terkenal dengan nama Raden Ngabehi Rangga Panambang.

Persahabatan itu berlanjut hingga dewasa. Mereka kompak melawan penjajahan Belanda.

Teman kecil Pangeran Sambernyawa lainnya adalah Suradiwangsa, berasal dari Nglaroh.

Suradiwangsa kemudian diangkat menjadi patih bergelar Kyai Patih Ngabehi Kadunawarsa.

Saat Pangeran Sambernyawa berusia 16 tahun, pada 1740 di Batavia (Jakarta) terjadi pemberontakan Cina terhadap Belanda.

Meluas ke tempat-tempat lain, dan memengaruhi sikap rakyat Mataram dan sudah pasang kuda-kuda melancarkan pemberontakan.

Ternyata Pakubuwono II memihak Belanda, maka rakyat pun menyerbu keraton.

Pangeran Sambernyawa bersama adik-adiknya dan 10 orang teman mereka bergabung dengan pasukan rakyat. Turut bertempur melawan pasukan Belanda.

Akibat gempuran itu, Pakubuwono II melarikan diri ke Ponorogo (Juni 1742).

Rakyat Mataram kemudian mengangkat Mas Garendi sebagai raja.

Namun, Pakubuwono II dengan bantuan Belanda kembali merebut keraton (Desember 1742).

Saat itu, Pangeran Sambernyawa dan adik-adiknya masih tinggal di keraton. Menunggu perkembangan lebih lanjut.

Dalam situasi tak menentu, Pangeran Sambernyawa khawatir dirinya dan adik-adiknya ditangkap Belanda.

Mereka pun pergi meninggalkan keraton pada 1741.

Turut dalam rombongan Pangeran Sambernyawa, Sutawijaya, Wirasuta, serta Suradiwangsa.

Atas saran Suradiwangsa, Pangeran Sambernyawa diminta pergi ke Nglaroh kawasan Kecamatan Selogiri, Kecamatan Wonogiri tempat asal Suradiwangsa.

Di Nglaroh, Pangeran Sambernyawa menyusun strategi untuk menggempur Belanda.

Segenap punggawa serta rakyat Nglaroh melakukan latihan perang.

Dengan berkuda, mereka menjelajahi gunung, menuruni jurang dan lembah yang sulit dijangkau pasukan Belanda.

Pangeran Sambernyawa mengangkat para pejabat yang akan membantunya dalam berjuang.

Umumnya mereka adalah teman-teman yang ikut bersamanya meninggalkan Keraton Kartasura.

Nama pengikut Pangeran Sambernyawa menggunakan awalan Jaya.

Yakni Jayawiguna, Jayasutirta, Jayadipura dan sebagainya.

Sedangkan nama Sutawijaya diganti menjadi Ngabehi Rangga Panambang.

Sedangkan Suradiwangsa berganti nama menjadi Kudanawarsa.

Ngabehi Rangga Panambang bertugas memimpin pasukan yang dibawa dari Kartasura, sedangkan Kudanawarsa dijadikan patihnya.

Setelah persiapan mengganyang penjajah Belanda sudah matang, atas anjuran Patih Kudanawarsa, Pangeran Sambernyawa menemui Sunan Kuning di Randulawang untuk menggabungkan diri.

Pasukan Pangeran Sambernyawa kembali digembleng untuk menghadapi medan pertempuran yang sesungguhnya. (wa)

Editor : Tri Wahyu Cahyono
#kisah heroik #karanganyar #Raden Mas Said #perjuangan #Pangeran Sambernyawa