Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Kisah Heroik di Kabupaten Karanganyar: Wewelutan, Dedemitan, dan Jejemblungan Strategi Pangeran Sambernyawa Obrak-abrik Tentara Belanda

Tri wahyu Cahyono • Rabu, 1 Mei 2024 | 23:28 WIB
Ilustrasi prajurit perang berkuda. Pangeran Sambernyawa memiliki strategi dalam menghadapi tentara Belanda yang bersenjata lengkap.
Ilustrasi prajurit perang berkuda. Pangeran Sambernyawa memiliki strategi dalam menghadapi tentara Belanda yang bersenjata lengkap.

RADARSOLO.COM- Sejak kanak-kanak, Raden Mas Said alias Pangeran Sambernyawa tidak pernah hidup enak.

Meskipun dilahirkan sebagai putra raja Kerajaan Kartasura, Pangeran Sambernyawa dan adik-adiknya lebih banyak prihatin.

Dilansir dari tesis Agung Murdiyanto, mahasiswa pascasarjana Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Pangeran Sambernyawa dilahirkan di Keraton Kartasura pada 7 April 1725.

Ayah Pangeran Sambernyawa adalah Kanjeng Pangeran Arya Mangkunagoro, Raja Keraton Kartasura yang dibuang oleh Belanda ke Srilanka (Ceylon).

Sedangkan ibunya bernama R.A. Wulan, putri dari Pangeran Balitar.

De Jonge, penulis dari Belanda dalam catatannya menyebutkan, hukuman pembuangan terhadap Kanjeng Pangeran Arya Mangkunagoro disebabkan oleh fitnah Kanjeng Ratu dan Patih Danurejo.

Dalam fitnahnya, Kanjeng Pangeran Arya Mangkunagoro dituding telah berzina dengan seorang selir Pakubuwono II, yakni Mas Ayu Larasati.

Akibatnya, Pangeran Arya Mangkunagoro dijatuhi hukuman mati. Namun kemudian diubah menjadi hukuman buang.

Peristiwa itu terjadi ketika Pangeran Sambernyawa berumur dua tahun.

Belum selesai sang ayah dibuang, Pangeran Sambernyawa dibuat sedih karena sang ibu meninggal dunia ketika melahirkan seorang putra.

Dari situlah, Pangeran Sambernyawa lebih dekat dengan rakyat kecil. Termasuk membulatkan tekadnya memerangi penjajahan kolonial Belanda.

Perang melawan pasukan Belanda dilakoni Pangeran Sambernyawa selama 16 tahun, yaitu 1740–1757).

Selama itu pula, upaya mengusir penjajah Belanda bisa dibagi menjadi tiga periode.

Baca Juga: Mendaki Gunung Lewati Lembah, Asyiknya Berwisata Petualangan dan Outbound di Kemuning, Karanganyar

Periode pertama, saat Pangeran Sambernyawa bergabung dengan Sunan Kuning di Randulawang, sekitar 1741-1742.

Pangeran Sambernyawa dipercaya sebagai panglima perang dan bergelar Pangeran Prangwadana Pamot Besur.

Berikutnya pada 1743, Pangeran Sambernyawa menjadi Pangeran Adipati Mangkunegoro dalam pasukan gabungan antara Pangeran Singasari (Prabu Jaka) dan Adipati Sujanapura di Sukawati. Pusat pertahanan Pangeran Sambernyawa dipusatkan di Majarata Wanasemang.

Periode selanjutnya sekitar 1743–1752, Pangeran Sambernyawa bergabung dengan ayah mertuanya yakni Kanjeng Pangeran Mangkubumi sebagai Patih dan Panglima perang.

Nah, pada 1752-1757, Pangeran Sambernyawa berjuang mandiri melawan Belanda (VOC).

Meskipun hanya didukung pasukan berjumlah minimalis, tapi pasukan Pangeran Sambernyawa dapat bergerak cepat.

Mereka mengenal dengan baik medan pertempuran.
Strategi yang diterapkan Pangeran Samberyawa adalah mundur, menyerang dari kiri, kanan, depan, belakang musuh secara mendadak.

Hal tersebut membuat tantara Belanda pontang-panting karena sulit memprediksi gerakan pasukan Pangeran Sambernyawa.

Taktik perang Pangeran Sambernyawa yang membuat tentara Belanda ciut nyali dinamakan wewelutan, dedemitan, dan jejemblungan.

Wewelutan artinya seperti belut (Jawa: welut). Belut merupakan sejenis ikan yang sangat licin dan sulit untuk ditangkap.

Dalam hal ini, pasukan Pangeran Sambernyawa sulit untuk dikepung maupun ditangkap.

Sedangkan Dedemitan berarti seperti setan (Jawa: demit). Gerakan pasukan Pangeran Sambernyawa tidak terlihat dan dampak serangannya menakutkan.

Lalu jejemblungan bisa diartikan gila-gilaan. Ketika berperang, pasukan Pangeran Sambernyawa tidak takut dengan apapun. Lawan yang berada di hadapannya langsung dilibas.

Masing-masing pasukan Pangeran Sambernyawa memiliki kemampuan tempur luar biasa dan pantang menyerah.

Sehingga tentara Belanda dengan jumlah lebih banyak dan peralatan modern bisa diganyang Pasukan Pangeran Sambernyawa.

Kemampuan pasukan Pangeran Sambernyawa lainnya adalah pandai berkamuflase atau menyemar sehingga sulit dikenali tentara Belanda.

Dengan begitu, ketika tentara Belanda lengah, pasukan Pangeran Sambernyawa dapat dengan mudah menghantamnya. (wa)

 

Editor : Tri Wahyu Cahyono
#Tentara Belanda #Strategi perang #pendiri karanganyar #Penjajahan #Pangeran Sambernyawa #kolonial