Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Kisah Heroik di Kabupaten Karanganyar: Pangeran Sambernyawa, Keluarga, dan Pasukannya Tak Pernah Kelaparan selama Berjuang, Ini Rahasianya

Tri wahyu Cahyono • Kamis, 2 Mei 2024 | 00:43 WIB
Ilustrasi hutan. Keluar-masuk hutan maupun naik-turun gunung dilakoni pasukan Pangeran Sambernyawa selama berperang.
Ilustrasi hutan. Keluar-masuk hutan maupun naik-turun gunung dilakoni pasukan Pangeran Sambernyawa selama berperang.

RADARSOLO.COM–Selama 16 tahun berperang melawan tentara Belanda dan para pendukungnya, Pangeran Sambernyawa banyak terlibat dalam pertempuran berskala besar.

Antara lain pertempuran di barat daya Kabupaten Ponorogo lama. Berlanjut di sebelah selatan Kota Rembang di hutan Sitakepyak, serta pertempuran di benteng Belanda di Yogyakarta.

Dikutip dari tesis Agung Murdiyanto, mahasiswa pascasarjana Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, awalnya, Pangeran Sambernyowo bergabung dengan pasukan Sunan Kuning.

Lalu disusul menyatunya pasukan Pangeran Singasari (Prabu Jaka) dan Adipati Sujanapura.

Namun koalisi pasukan tersebut hanya seumur jagung. Sunan Kuning memutuskan bergerak ke arah timur (Pasuruhan), sedangkan Pangeran Sambernyawa ingin menggempur Mataram yang kondisi medannya sudah di luar kepala.

Selama 9 tahun, Pangeran Sambernyawa berjuang bersama Pangeran Mangkubumi.

Tapi pada akhirnya mereka terpaksa berpisah karena adanya perbedaan pendapat.

Pangeran Sambernyawa tidak setuju dengan rencana Mangkubumi berdamai dengan Belanda.

Mulai saat itu, Pangeran Sambernyawa berjuang secara mandiri.

Dia bertekad menyatukan Bumi Mataram. Meskipun harus menghadapi tiga kekuatan sekaligus. Yakni Belanda, Sunan Surakarta dan Sultan Yogyakarta.

Gerakan Pasukan Sambernyawa yang senyap dan mematikan, berhasil menguasai Madiun, Magetan, dan Ponorogo.

Pangeran Sambernyawa kemudian memerintahkan untuk membumihanguskan daerah-daerah tersebut.

Baca Juga: Awal Mei, DPC PDIP Sragen Buka Pendaftaran Bakal Calon Bupati: Kedepankan Komunikasi Politik

Setelah itu, bersama pasukannya, Pangeran Sambernyawa meninggalkan Ponorogo dan membuat pertahanan di barat daya Ponorogo, yakni di Desa Kasatrian.

Mengetahui Madiun, Magetan dan Ponorogo dikuasai Pangeran Sambernyawa, Pangeran Mangkubumi berang.

Dia memerintahkan seluruh pasukan menuju Ponorogo untuk mengejar Pangeran Sambernyawa.

Sesampainya di Ponorogo, ternyata daerah setempat telah dibumihanguskan, sedangkan Pangeran Sambernyawa dan pasukan telah berada di Desa Kasatrian.

Pasukan Pangeran Mangkubumi terus mengejar Pangeran Sambernyawa.

Akhirnya pecah perang dahsyat. Banyak korban berjatuhan dari pihak Pangeran Mangkubumi.

Menariknya, selama berjuang, Pangeran Sambernyawa dan pasukannya tak pernah kelaparan.

Begitu pula R.A. Sumanarsa, sang nenek; serta Kanjeng Ratu Bandara, Mas Ayu Kusuma Patahati yang merupakan ampil dalem istri (selir), serta putra putrinya yang setia mendampingi.

Mereka sudah terlatih berkuda naik-turun gunung dan lembah, maupun menyeberangi sungai.

Tidak hanya itu, Pangeran Sambernyawa, keluarga, dan pasukannya mengenal dengan baik segala hasil hutan yang dapat dijadikan makanan.

Seperti umbi-umbian, buah-buahan dan sebagainya.

Itu yang membuat Pangeran Sambernyawa beserta keluarga dan pasukan tidak pernah kelaparan. (wa)

 

Editor : Tri Wahyu Cahyono
#karanganyar #perang #pertempuran #mataram #Pangeran Sambernyawa