RADARSOLO.COM- Peperangan demi peperangan melawan tentara Belanda dan antek-anteknya dilakoni Pangeran Sambernyawa.
Di saat itu pula, kemenangan maupun mengalami situasi terdesak, menjadi hal yang kerap dirasakan Pangeran Sambernyawa bersama prajuritnya.
Menariknya, mereka seperti tak pernah lelah bertekad mengusir penjajah. Selama belasan tahun berperang, rasa persatuan antara pimpinan dan yang dipimpin semakin kuat.
Tidak pernah Pangeran Sambernyawa memutuskan sesuatu siasat perang dengan memaksakan kehendaknya.
Tetapi selalu dikaji dengan Patih Kudanawarsa, dengan adik-adiknya, dan para pejabat lain. Semua punggawa bebas mengungkapkan pendapatnya dalam menghadapi musuh.
Dalam berjuang, pangeran Sambernyawa memiliki slogan Tiji Tibeh atau mati siji mati kabeh, mukti siji mukti kabeh. (Mati satu mati semua, sejahterah satu sejahtera semua)
Slogan mengikat tali batin antara Pangeran Sambernyawa dan para pengikutnya. Mereka luluh menjadi satu dalam kata dan perbuatan.
Kepemimpinan dan kecerdasan sikap Pangeran Sambernyawa terlihat dalam palagan di hutan Sitakepyak, suatu hutan yang rapat ditumbuhi pohon jati berukuran raksasa. Dihuni beragam hewan buas.
Medan tersebut menyulitkan musuh untuk menembusnya. Namun hutan tersebut sangat akrab dengan Pangeran Sambernyowo dan semua prajuritnya. (wa)
Editor : Tri Wahyu Cahyono