RADARSOLO.COM- Pertempuran yang dihadapi Pangeran Sambernya bersama prajuritnya kali ini merupakan peperangan besar dengan dampak luar biasa.
Mampu mengubah sikap politik Belanda terhadap perjuangan Pangeran Sambernyawa.
Peperangan tersebut terjadi sekira 3 bulan sebelum akhir 1757.
Benteng tentara Belanda di Yogyakarta diacak-acak pasukan Pangeran Sambernyawa.
Padahal kala itu, Pangeran Sambernyawa hanya memiliki prajurit dengan jumlah sedikit.
Sedangkan peralatan perang di balik tebalnya tembok benteng di Yogyakarta sangat komplet.
Hal tersebut tak membuat Pangeran Sambernyawa dan prajuritnya ciut nyali untuk menyerbu.
Meskipun sebelumnya, Kudanawarsa, sang patih sempat ragu ketika Pangeran Sambernyawa memutuskan menyerang benteng Belanda di Yogyakarta.
Namun, dengan taktik yang matang, Pangeran Sambernyawa bisa menyakinkan Kudanawarsa dan bersama-sama menggempur benteng tantara Belanda di Yogyakarta.
Banyak tentara Belanda yang tewas dalam penyerbuan Pangeran Sambernyawa ke benteng di Yogyakarta.
Dikutip dari tesis Agung Murdiyanto, mahasiswa pascasarjana Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, bobolnya benteng di Yogyakarta itu membuat gusar Pemerintah Belanda.
Terutama Nicolaas Hartingh, residen Belanda untuk Yogyakarta.
Di tengah kepanikan itu, Nicolaas Hartingh buru-buru berkoordinasi dengan Pakubuwono III untuk berkomunikasi dengan Pangeran Sambernyowo.
Pakubuwono III lalu memanggil Pangeran Sambernyawa untuk segera menemuinya.
Tujuannya, diminta bantuan menjalankan pemerintahan di Surakarta.
Namun, Pangeran Sambernyawa ragu. Untuk memastikan undangan Pakubowo III, Pangeran Sambernyawa mengirim utusan.
Yakni adiknya yang bernama Pangeran Mangkudiningrat beserta Pringgalaya menemui Pakubuwono III.
Setelah dipastikan undangan Pakubuwono III tersebut bukan tipu muslihat, Pangeran Sambernyawa menjadi yakin dan bersedia menemui Pakubuwono III.
Pertemuan antara kakak-adik itu, menjadi hal yang istimewa. Mengingat Pangeran Sambernyawa dan Pakubuwono III sudah terpisah selama 16 tahun.
Dari pertemuan itu, keduanya berjanji bersama-sama membangun Surakarta.
Pulang dari pertemuan itu, Pangeran Sambernyawa bersama pasukannya menyeberangi Bengawan Semanggi alias Sungai Bengawan Solo.
Di tepi Kali Pepe, Pangeran Sambernyawa membangun istana yang pertama. Seluruh keluarga kembali berkumpul.
Mengawali kehidupan yang penuh kedamaian namun tetap waspada. (wa)
.