RADARSOLO.COM - Bukan waktu yang singkat bagi Pangeran Sambernyawa bersama keluarga dan pasukannya melakoni peperangan dan beragam tekanan.
Baik dari tentara kompeni maupun dari kalangan bangsa sendiri yang pro kepada Belanda.
Selama 16 tahun, Pangeran Sambernyawa dan pasukannya keluar masuk hutan, naik turun gunung dan lembah.
Menghadapi desingan peluru dan dentuman meriam penjajah. Itu semua guna mewujudkan cita-cita mengusir kompeni dari tanah air.
Belasan tahun berperang, Praja Mangkunagaran (Pura Mangkunegaran) dengan kepala pemerintahannya Pangeran Sambernyawa yang bergelar Kanjeng Pangeran Adipati Aryo Mangkunagoro I, akhirnya didirikan.
Pura Mangkunegaran dibangun bukan karena belas kasihan maupun hadiah dari kompeni Belanda.
Melainkan lewat perjuangan Pangeran Sambernyawa yang didukung keluarga, pasukan, dan tentu saja rakyat.
Hingga kini, tiga ajaran Pangeran Sambernyawa yang terkenal dengan Tri Dharma-nya tetap lestari, yakni Mulat Sarira Angrasa Wani yang berarti kenalilah dirimu sendiri, dan jadilah kuat serta pandai.
Rumangsa Melu Handarbeni bermakna merasa memiliki bangsa dan negara.
Selanjutnya, Wajib Melu Hangrungkebi berarti siap membela bangsa dan negara. (wa)
Editor : Tri Wahyu Cahyono